Saya merasakan udara Padang untuk pertama kalinya, dini hari setelah imsak, tepat pukul 05:10 WIB.
Saya menangis di Senin itu, sembari fajar mulai menyingsing. Kala itu 1986, republik ini dipimpin oleh seorang diktator berdarah Jawa.
Di tanah kelahiranku, sebagian besar penduduknya ramah. Sarat bahasa kias, tapi juga gemar sindir. Dosis sindirannya itu mungkin nomor wahid seantero jagad raya. Memang, bisa membuat jiwa melayang karena dipuji bagaikan dewa, atau justru terinjak bagaikan bandit. Seorang sejawat saya, yang juga masih satu nagari, setengah berseloroh pernah berucap: “Di sana ada sebuah industri cemooh terbesar di dunia.” Saya hanya tersenyum geli.
Saya sendiri bukan asli Padang. Nenek moyang kami berasal dari Sandiang Baka, di daerah Solok. Mereka turun secara bersama, membuat perkampungan di pinggir sungai, lantas beranak pinak. Walaupun begitu, saya merasa lebih akrab dengan Padang.
Kini Padang sudah padat. Lahan yang kosong telah terisi. Permukiman kumuh dan elit berselang seling. Jalanan penuh sesak. Roda dua, roda tiga, roda empat – saling berselisih, hilir-mudik.
Di jalanan Padang, saya hadir. Ikut serta mengemudi. Lantas apa yang terjadi?
Pengemudinya tidak tertib. Sebagian besar ingin cepat sampai di tujuan. Tak peduli, menyalip sana sini. Matanya melotot manakala diserempet. Tapi kupingnya budek padahal di posisi salah. Ya, itulah sebagian Padang.
Sebagian mengemudi tanpa helm. Kebut-kebutan. Seolah-olah dia hidup selamanya, pongah dan terbahak-bahak. Bahkan, celakanya, tidak menyalakan lampu kendaraannya di malam hari.
Kepongahan itu ternyata harus dibayar mahal 30 September lalu. Tapi, teguran itu masih belum membuat jera.
Saya merindukan Padang yang dulu. Padang yang penuh senyum. Padang yang tertib. Padang yang nyaman. Padang yang tanpa membuang kata-kata kotor di jalanan. Ya, rindu nian. Ah, sungguh sulit menghadirkan generasi yang terdidik, bermoral, santun, dan bermartabat.
Payah bana.
KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) diberi mandat untuk menanggulangi korupsi karena Sistem Peradilan Pidana relatif kurang mampu dalam meminimalkan kasus korupsi yang kian parah. Pemberantasan korupsi merupakan bagian yang melekat pada agenda reformasi guna mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik dan bersih. Namun, mengapa lembaga superbody penegakan hukum ini perlahan kukunya tumpul dan taringnya patah?
Ada baiknya kita dekati masalah ini dengan analisis sederhana berperspektif kriminologis. Mustofa (2007) menjelaskan, penggentarjeraan berarti tidak dilakukannya tindakan pelanggaran hukum karena: (1) takut penghukuman [general deterrence (penggentar)], dan (2) takut dihukum karena pernah mengalami penghukuman [specific deterrence (penjera)].
Secara luas, menurut penulis, dampak gentar KPK niscaya akan sangat tergantung dari seberapa besar rasa takut para pelaku potensial untuk melakukan korupsi. Memang untuk mengetahui dan mengukur ‘rasa takut’ ini suatu hal yang sulit karena sangat abstrak (Nettler, 1978). Setidaknya, hal ini dapat terlihat dari seberapa signifikan penurunan jumlah kasus korupsi yang terjadi dari tahun ke tahun.
Lebih terukur lagi, yakni dengan mencermati seberapa minim kerugian keuangan negara. Namun, sebagian kalangan berpandangan, KPK dianggap sukses jika KPK bubar. Yang jadi masalah, pelbagai tekanan/kepentingan politis segelintir elit mengakibatkan ‘pilih-tebang’ penanganan kasus korupsi dan KPK juga bakal dianggap tidak independen. Sementara, dampak jera, setidaknya dapat diukur dari seberapa banyak pelaku yang tidak lagi melakukan korupsi karena takut dihukum mengingat mereka pernah mengalami penghukuman. Dalam hal gentar-jera ini, kita tidak dapat mengabaikan peran media massa dalam memublikasi pelbagai penanganan kasus korupsi di Indonesia.
Harap maklum, aspirasi agar KPK bubar setidaknya terbelah menjadi dua. Pertama, yang berdasarkan kepada pemahaman bahwa korupsi merupakan kejahatan (merugikan negara dan masyarakat) sekaligus tindak pidana yang harus ditanggulangi dengan cepat. Justru itu, dibutuhkan suatu lembaga di luar Sistem Peradilan Pidana yang mewakili kewenangannya untuk menggelar penyelidikan dan penyidikan terhadap kasus korupsi (bersifat superbody), yakni KPK.
KPK hanya dapat dihapuskan bila Kepolisian dan Kejaksaan mampu menanggulangi masalah korupsi dengan profesional. Sejauh aparat Kepolisian dan Kejaksaan belum sanggup, maka keberadaan KPK bersifat mutlak. Bila jumlah kasus korupsi perlahan menurun, maka KPK bisa dibubarkan dan upaya penegakan hukum untuk kasus korupsi benar-benar dikembalikan kepada proses yang relatif universal, yaitu Sistem Peradilan Pidana (Kepolisian dan Kejaksaan). Dan penulis sepakat dengan gelombang aspirasi yang pertama ini.
Kedua, yang menghendaki KPK bubar karena rasa takut yang muncul dari kinerja KPK yang dianggap fantastis. Publik hanya bisa berspekulasi terhadap apa yang tengah menimpa jajaran Pimpinan KPK. Biarkan proses hukum berjalan sembari tetap mengoreksi dan mengawal berjalannya proses itu. Toh kebenaran bakal berbicara tentang apa dan bagaimana masalah itu sesungguhnya. Yang pasti, awan mendung yang kini tengah menyelimuti KPK niscaya telah berhasil menyulut tawa segelintir orang yang memang menghendaki hancur-leburnya KPK.
Perlu dipahami, bagi koruptor besar, menurut Nitibaskara (2005), setiap celah untuk lolos telah dipersiapkan, termasuk jika harus meniti jalan hukum. Lebih gawat lagi, tatkala hukum telah dijadikan alat kejahatan (law as tool of crime), maka koruptor yang paling kakap sekalipun tidak mungkin dinyatakan bersalah mengingat tindakannya yang tidak menyalahi aturan hukum.
Langkah Presiden Yudhoyono mengeluarkan Perppu dan membentuk ‘Tim 5’ yang merekomendasikan sejumlah nama Pelaksana Tugas Sementara (Plt) Pimpinan KPK layak diapresiasi. Solusi lumayan bijak justru datang dari Wapres Jusuf Kalla, agar mempercepat proses penyidikan terhadap dua Pimpinan KPK (BSR & CMH). Menurut Kalla, jika terbukti bersalah, harus segera diproses ke pengadilan dan segera diganti. Bila tidak terbukti melanggar hukum, maka kasusnya harus dihentikan dan BSR & CMH bertugas kembali.
Namun, kondisi ini sekaligus menggugah hati nurani publik untuk kian cermat dalam mengawal detak nadi pemberantasan korupsi di Indonesia. Manakala jajaran Pelaksana Tugas Pimpinan KPK mendatang bekerja tidak lebih galak dibanding perangkat yang sebelumnya, maka di situlah bandul pemberantasan korupsi bergerak mendekati titik terendah.
Harapannya, bandul itu bergerak ke arah semakin banyak kasus korupsi yang diungkap, semakin banyak pelaku korupsi mendapatkan hukuman, dan semakin minim pula kerugian keuangan yang dipikul oleh negara. Alhasil, perangkat/aturan hukum serta penghukuman (derita/nestapa yang dijatuhkan secara legal oleh negara) juga semakin memperlihatkan kedua dampak di atas, yakni gentar bagi calon (potensial) pelaku korupsi dan jera bagi mantan koruptor yang sudah dihukum.
Pada Desember 2008, penulis melakukan penelitian sederhana (survey) perihal dampak penggentar untuk kasus suap-menyuap pada Pegawai Negeri Sipil di suatu institusi. Hasilnya, dari 63 PNS yang menjadi responden, 55,6% di antaranya merasa bahwa KPK akan melakukan tindakan terkait posisi mereka jika mereka melakukan suap menyuap. Sebanyak 81% di antaranya juga merasa bahwa mereka akan dikenai hukuman terkait posisi mereka jika mereka melakukan suap menyuap.
Bahkan, apabila melakukan suap menyuap, dari 63 responden itu, maka mereka merasa: Akan membuat malu/menjadi beban keluarga (96,8%), Akan hancur masa depan/karir (95,2%), Martabat akan hilang karena muncul di pengadilan (96,8%), Akan dihukum (98,4%), Akan dicerai istri/suami (60,3%), Akan diperlakukan tidak adil di pengadilan (60,3%), Akan dijauhi oleh rekan/sejawat kerja (88,9%), dan Takut segala sesuatu yang bakal terjadi di pengadilan (98,4%). Survey ini memang tidak representatif. Namun, setidaknya dapat memberi gambaran sederhana.
Betapa kinerja KPK yang fantastis dan publikasi secara luas oleh media massa dalam penanganan kasus korupsi telah berhasil menebar dampak penggentarjeraan ke seluruh Indonesia. Hanya dengan keberanian politik yang luar biasa dari pemerintah dan semangat anti-korupsi yang kuat dari masyarakatlah KPK dapat kian menggentar dan menjerakan.
Tapi, apakah upaya ‘menumpulkan kuku’ dan ‘mematahkan taring’ KPK, dalam arti luas, memang merupakan letupan dari dampak penggentarjeraan dan bahkan rasa takut yang teramat dari segelintir kalangan?
Mungkin saja.
(sumber: discan secara pribadi, Courtesy: LP3ES)
Hore, alhamdulillah,
Majalah PRISMA terbit lagi.
Aku sendiri kelahiran 1986. Mengenal dan membaca majalah PRISMA baru di tahun 2005-an, ketika sudah kuliah di FISIP-UI. Kebetulan, di lantai 2 gedung perpustakaan [Miriam Budiardjo Resource Center (MBRC)] FISIP-UI ada beberapa rak/lemari yang isinya seabrek majalah PRISMA edisi 1970-an, 1980-an, dan awal 1990-an. Jadi, terdapat relung waktu yang begitu panjang terkait ketidak-tahuanku akan manfaat yang dipetik dari membaca majalah itu.
Dengan kata lain, aku termasuk manusia yang telat membacanya. Hal ini dapat dimaklumi mengingat sejak 1998, PRISMA tidak terbit lagi. Tahun 1998 itu, aku sendiri baru lulus SD. Tapi tidak jadi masalah. Toh sekarang aku bisa menyelami pemikiran pelbagai penulis edisi ‘70-an, ‘80-an, dan ‘90-an itu dengan membuka lembarannya kembali. Di UI cukup lengkap dan disimpan dengan rapih. Beberapa tulisan yang enak dibaca dan memberi pencerahan terhadap teori yang kupahami — aku foto copy, lantas kubaca berulang-ulang di kamar kosan. Bahkan membaca di larut malam hingga azan shubuh terdengar. Tentu saja — sebagaimana biasa — ditemani lantunan instrumental, beberapa potong roti, dan segelas teh. Aku merasakan dan meyakini, membaca di malam hari, di tengah keheningan itu, jauh lebih meresap dan lengket di dalam kepala jika dibandingkan dengan waktu-waktu lainnya.
Sebagian penulis (penyumbang tulisan) dalam PRISMA edisi tempo dulu itu kini sudah ada yang duduk di pemerintahan, penentu kebijakan politik di republik ini. Sebagian yang lain masih tetap konsisten berada dalam ranah akademisi, think-tank, dan profesional. Sebagain juga ada yang sudah sepuh dan bahkan telah tutup usia. Namun, tulisan dan buah pikir para penulis yang kini sudah masuk ke liang kubur itu niscaya selalu “hidup” di tengah pergulatan pemikiran kekinian.
Dengan membaca majalah yang sejak 1998 tidak terbit itu — lantas sepuluh tahun sesudahnya terbit lagi — kita dapat memahami pergulatan pemikiran sosial-budaya-ekonomi kekinian. Artinya, bagi masyarakat luas — terutama kalangan dosen dan mahasiswa — PRISMA memberi pencerahan isu kekinian serta pelbagai pemikiran segar. Agaknya, teori sosial-budaya-ekonomi-politik yang njelimet yang ada di dalam buku teks ajar — dan kerap membuat kepala pening itu — semakin dapat dipahami dan bahkan juga bisa dikoreksi melalui perdebatan sehat yang disajikan oleh PRISMA.
Pada edisi pertama ini, Juni 2009, PRISMA menyajikan topik “Senjakala Kapitalisme dan Krisis Demokrasi“. Di dalamnya, terdapat tulisan Yudi Latief, Jaleswari Pramodhawardani, (wawancara dengan) Sri Mulyani Indrawati, dan lain-lain.
Bagi peminatnya, PRISMA merupakan sebuah bacaan ilmiah populer, sebagai medium perdebatan pemikiran lintas-disiplin. Aku sendiri merasa rugi jika tidak membacanya dengan cermat.
Selamat kepada Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) yang telah menerbitkannya. Semoga PRISMA pada edisi-edisi mendatang dapat menghadirkan kembali perdebatan ilmiah yang sehat, seru, dan memberi makna bagi perputaran roda sejarah bangsa kita.
Aku sendiri termasuk kalangan yang meyakini kekuatan pemikiran. Pemikiran (dan kumpulannya) itu niscaya dapat menentukan ke mana arah sebuah peradaban.
Ya, sangat.
(dok pribadi)
Di usia yang masih muda, 23 tahun, terkadang aku merasa gundah. Rencana kehidupan jangka menengah dan panjang yang kupetakan di atas kertas, cenderung berantakan.
Namun, aku masih optimis. Mengutip istilah Obama, The Audacity of Hope, Keberanian untuk Berharap. Harapan senantiasa ada.
Aku sendiri berkeyakinan, setiap manusia itu telah ditetapkan garis hidupnya. Sekarang, tinggal berusaha sekuat tenaga agar garis itu dilalui dengan baik, dan setiap individu mendapatkan yang terbaik.
Tuhan lebih tahu apa yang terbaik untuk makhluknya. Aku tidak tahu apa yang terjadi esok dan seterusnya.
Ah, jalan memang masih panjang dan berliku….

(dok pribadi)
27 Mei 2009, menjadi hari yang bersejarah bagiku.
Setelah disidang kurang dari 1 jam, Mas Eko Haryanto, yang memimpin Sidang skripsiku kala itu berucap: “Saudara Iwan Sulistyo sudah siap menerima keputusan sidang?“
Dengan perasaan yang berdebar, aku menjawab: “Insya Allah, Pak.” Menyaksikan jawabanku, Pak Todung Mulya Lubis, pengacara kondang di Indonesia yang menjadi penguji ahli skripsiku, tertawa geli…
Sulit mengungkapkan apa yang tengah berkecamuk di dalam bathinku tatkala itu. Semuanya campur aduk.
Mas Eko melanjutkan: “Saudara Iwan Sulistyo, Nomor Pokok Mahasiswa 0905040251, Judul Skripsi: Dampak dari Keberadaan, Wewenang, dan Kinerja KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) terhadap Tindakan Suap-Menyuap di Kalangan PNS (Pegawai Negeri Sipil) Direktorat Jenderal X, Departemen Y, — Anda dinyatakan lulus dan mendapatkan nilai A-, dengan perbaikan/penyempurnaan subatansi dan teknis.”
Alhamdulillah. Segala puji bagi Allah SWT….
Dengan putusan itu, Aku resmi menjadi sarjana. Tentu dengan sejumlah perbaikan pada beberapa bagian skripsiku.
Rasanya, telah tunai 1 fase dalam kehidupanku. Namun, aku masih dan ingin terus belajar. Aku sendiri hendak menjadi pendidik di perguruan tinggi. Di sana, aku akan memulai hidup baru.
Hanya Tuhan yang mengetahui, apa yang bakal terjadi di sana esok…..

(dok pribadi)
Medio 2006, secara tidak sengaja, aku bertemu dengan seorang bapak. Aku berkunjung ke kediamannya di daerah Cibubur. Beliau pensiunan pegawai sebuah Departemen di Jakarta. Usianya, aku taksir, kira-kira mendekati 70 tahun. Usia yang memang sudah sepuh. Kebetulan beliau masih ada ikatan keluarga jauh denganku.
Pada awalnya, aku menganggap beliau biasa-biasa saja. Namun, setelah lama berdialog, dari tutur kata serta pembawaannya yang tenang dan matang, aku merasakan suasana yang berbeda. Apalagi dengan kemampuannya menerka keadaan seseorang. Dugaanku kian bertambah kuat. Beliau ternyata memiliki kemampuan ‘menerawang ke depan’. Barangkali, bisa disebut ‘memiliki kelebihan’. Kelebihan yang beliau miliki ini beliau cari dengan sengaja karena ada kondisi yang mengharuskan beliau untuk “memagari” diri beliau dengan ilmu yang baik (ilmu yang bersih, dan bukan ilmu jahat). Persaingan di kantor pada saat menjabat beberapa tahun lalu agaknya menjadi alasan mengapa langkah itu dipilihnya.
Kendati beliau terlihat sepuh, namun sorot matanya masih terlihat tajam. Beliau “melakukan penerawangan” cukup dengan mendekatkan kedua telapak tangannya. Beliau butuh waktu beberapa menit, setelah itu baru menjelaskan hasil penerawangannya. Aku pun sebagai manusia, merasa penasaran. Lantas aku bertanya, bagaimana nasibku di kampus? Aman ga untuk jangka waktu tertentu?
Sang bapak pun beraksi. Seperti biasa, kedua telapak tangannya didekatkan, dengan sedikit konsentrasi. Ada beberapa hal yang aku heran. Beliau tahu persis aku tinggal di mana, deket apa, dan bagaimana suasananya. Padahal, aku belum pernah sebelumnya bertemu dengan beliau. Sebaliknya, beliau pun tidak mengetahui siapa dan bagaimana pribadiku. Kami bertemu baru kali itu. Luar biasa. Beliau mengetahuinya. Alhasil, pada saat itu, bulu kudukku merinding. Aku terasa perlahan-lahan dibawa ke alam spiritualitas. Ranah yang tentu sangat kontradiktif dengan kehidupanku sebagai mahasiswa, yang sarat dengan akal-sehat, ilmiah, dan pertanggungjawaban akademik.
Menurut hasil penerawangan sang bapak, ada 3 poin besar yang bakal terjadi dalam kehidupanku untuk beberapa waktu ke depan. Pertama, beliau berpesan, agar jangan sering main ke lantai 4 asrama UI. Kedua, hati-hati ketika masuk masa dua tahun kuliah di kampus karena bakalan ada temanku yang kurang menyukaiku. Ketiga, setelah aku lulus, aku setahun dulu di kampus, setelah itu ke luar.
Luar biasa. Ketiga tesis itu “nyaris” sesuai (atau dengan kata lain mendekati) dengan apa yang terjadi di kehidupanku. Bukan berarti syirik ataupun menyalip takdir Tuhan. Yang pasti, itu benar-benar terjadi. Bagaimana dengan Anda? Apa mau diramal juga? Kapan-kapan kita ke sana…. Hehehehhe…….
Berikut merupakan kata pengantar & ucapan terima kasih dalam skripsiku. Karena bagian pengantar/ucapan terima kasih ini aku posting di blog, maka dengan sendirinya, kata “ini” aku telah ganti dengan kata “itu” untuk setiap pemakaiannya dalam kalimat. Adapun judul skripsiku: DAMPAK DARI KEBERADAAN, WEWENANG, DAN KINERJA KPK (KOMISI PEMBERANTASAN KORUPSI) TERHADAP PERSEPSI RISIKO PENGHUKUMAN BILA MELAKUKAN TINDAKAN SUAP-MENYUAP DI KALANGAN PNS (PEGAWAI NEGERI SIPIL), DIREKTORAT JENDERAL X, DEPARTEMEN Y
KATA PENGANTAR/UCAPAN TERIMA KASIH
DALAM SKRIPSI
(dok pribadi)
Saya bersyukur kepada Allah SWT karena atas berkat dan rahmat-Nya saya dapat merampungkan skripsi itu. Saya menyadari, skripsi yang saya tulis itu bukan merupakan suatu yang instant. Itu buah dari suatu proses yang relatif panjang, menyita segenap tenaga dan fikiran. Penulisan skripsi itu saya lakukan dalam rangka memenuhi salah satu syarat untuk mencapai gelar Sarjana Sosial dari Departemen Kriminologi, FISIP-UI. Yang pasti, tanpa segenap motivasi, kesabaran, kerja keras, dan do’a – mustahil saya sanggup untuk menjalani tahap demi tahap dalam kehidupan akademik saya di FISIP-UI, 4 (empat) tahun lamanya.
Dengan segala kerendahan hati, ucapan terima kasih yang tak terhingga, wajib saya berikan kepada:
- Prof. Dr. Muhammad Mustofa, M.A., Guru Besar bidang Metodologi dalam Kriminologi FISIP-UI, yang telah berkenan membimbing saya dalam penulisan skripsi selama 2 (dua) semester. Betapa arahan/petunjuk/bimbingan dari beliau telah menyadarkan saya akan pentingnya penguasaan teori serta metode dalam kriminologi.
- Dr. Todung Mulya Lubis, S.H., LLM. yang telah berkenan sebagai penguji ahli pada skripsi saya. Ditengah kesibukan beliau, saya beruntung karena telah diberi kesempatan untuk diuji dan kemudian diberi masukan oleh beliau.
- Bapak Salman, yang telah membantu saya dalam menyebar kuesioner/angket di Direktorat Jenderal X, Departemen Y. Kepada Bapak “AM” – yang pada waktu itu menjabat sebagai Sekretaris Direktur Jenderal X Departemen Y – juga terima kasih. Beliaulah, atas seizin Dirjen, yang telah memperkenankan saya untuk melakukan penelitian di sana. Dan Alhamdulillah, penelitian itu terlaksana dengan baik.
- Prof. Adrianus Eliesta Sembiring Meliala, M.Si., M.Sc., Ph.D., sebagai Ketua Departemen Kriminologi FISIP-UI dan Drs. Eko Haryanto, M.Si. sebagai Ketua Program S1 Reguler Kriminologi FISIP-UI.
- Bang Iqrak Sulhin, S.Sos., M.Si. – yang 4 (empat) tahun lamanya berperan sebagai PA (Pembimbing Akademik) saya di UI. Segenap staf pengajar – Mas Yogo Tri Hendiarto, S.Sos., M.Si., Mas Kisnu Widagso, S.Sos., M.TI., Mbak Herlina Permata Sari, S.Sos., M.Crime., dan Bang M. Irvan Olii, S.Sos., M.Si. Betapa beliau semua sangat berjasa dalam menggembleng saya, terutama dalam pemahaman atas pelbagai konsep dalam kriminologi. Terus-terang, saya berhutang budi kepada mereka. Pemikiran dan cara pandang saya dalam melihat serta memaknai pelbagai persoalan sosial, sangat dipengaruhi oleh pemikiran mereka. Empat tahun berinteraksi dengan mereka, sangat membuka cakrawala saya. Lebih dari itu, betapa uraian kuliah yang saya cermati di ruang kuliah serta percikan pemikiran mereka semua, sangat mendorong saya untuk belajar lebih giat lagi. Kepada Mas Arif dan Pak Hadi, juga terima kasih atas bantuan administrasi-nya.
- Bapak Sudarisman dan Ibu Nurlis, orang tua saya, yang telah membesarkan dan mendidik saya. Saya mutlak berterima kasih dan sekaligus meminta maaf kepada beliau berdua karena hanya dengan dukungan beliau berdualah saya dapat melanjutkan pendidikan saya hingga perguruan tinggi. Saya menyadari, tanpa beliau berdua, mustahil saya bisa menjadi sekarang. Begitu banyak pengorbanan yang beliau berikan kepada saya, dari kecil hingga dewasa. Pengorbanan serta kasih sayang yang tak terhitung dan tak terhingga banyaknya. Kepada Om Pen dan Tante I serta segenap keluarga besar – ucapan terima kasih juga wajib saya berikan. Kepada adik-adik saya: Meiti Sulistika (Tika), Yuni Safitra (Yuni), dan Yona Safitri (Yona)– juga terima kasih atas dukungannya.
- Pak Wid dan keluarganya, karena pada saat mengikuti Bimbel di Nurul Fikri Kalimalang pada 2004 silam, saya telah sempat numpang menginap di sebuah kamar di lantai dua rumahnya di Pondok Kelapa, Jakarta Timur. Om Umin dan keluarga, juga terima kasih.
- Mak Tuo dan Om Sur beserta keluarganya di Cibinong, yang telah berjasa, karena ketika saya diterima sebagai mahasiswa di UI (2005), saya lagi-lagi numpang menginap sepekan di rumah beliau. Dari beliaulah saya mengenal Trie Setiatmoko (Tiko) dan Bang Awal – putra dari Bapak Riswant, satu komplek di Perumahan Bakosurtanal dengan Om Sur. Tiko dan Bang Awal merupakan orang pertama yang telah berjasa membawa saya ke kampus UI Depok. Di luar dugaan, ternyata, kelak, 4 (empat) tahun setelah 2005, Tiko terpilih menjadi Ketua BEM UI 2009. Saya ikut berbangga. Adapun di Balairung UI, saya bertemu dengan Andriea Salamun (Andre), yang juga telah berjasa mengenalkan saya pada Asrama UI. Lewat Andre-lah saya baru bisa tahu Asrama UI, dan kemudian memesan kamar di sana.
- Para sejawat saya di UI: Andreas (sangat berjasa dalam membantu ke kantor di daerah Salemba), Hadi (putra Hakim Agung Prof Takdir Rachmadi, teman dari SD hingga kuliah), Abdul (yang berjasa menemani saya ke Klinik ketika saya terserang tifus & DBD), Da Taqwa (berjasa membantu tatkala saya gagap akan teknologi), Fachrul, Tulus Ranu dan Tulus Krim, Ladiansyah, Fauzan, Waldi, Didi, Rara, Mahar, Guntarsih, Nadia, Dini, Atin, dan semuanya. Maafkan saya jika saya lupa menulis nama karena sedemikian banyaknya.
- Rekan-rekan aktivis mahasiswa, ketika saya terlibat di dalam kepengurusan Departemen Keilmuan Senat Mahasiswa (kini BEM) FISIP-UI 2006/2007. Mereka adalah: Farid (entah di mana sekarang), Adli ‘Oeddin’ (yang kini sering tampil di layar kaca karena sudah menjadi reporter di Metro-TV), Pandu, Anas, Deta, dll. Apakah jargon “berbobot dan bersahabat” masih tetap menyala?
- Semua pihak yang mustahil saya sebutkan satu per satu, yang telah berjasa kepada saya. Kiranya Tuhan YME membalas kebaikan mereka.
Pada awalnya, saya hendak menulis skripsi tentang “korupsi”. Akan tetapi, karena sedemikian luasnya korupsi itu – sebagaimana dapat dicermati di dalam Undang-Undangnya (UU No. 31 Tahun 1999 jo. UU No. 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi) – maka saya dianjurkan oleh Prof. Mus (pembimbing saya) untuk memilih yang lebih spesifik. Dalam kaitan ini, KPK telah mengelompokkan variasi tindak pidana korupsi menjadi 30 (tiga puluh) bentuk/jenis. Dari ketiga puluh bentuk/jenis itu, dapat dirumuskan menjadi 7 (tujuh) bentuk/jenis tindak pidana korupsi, yakni 1) kerugian keuangan negara, 2) suap-menyuap, 3) penggelapan dalam jabatan, 4) pemerasan, 5) perbuatan cu-rang, 6) benturan kepentingan dalam pengadaan, dan 7) gratifikasi. Selain itu, menurut UU No. 31 Tahun 1999 jo. UU No. 20 Tahun 2001 tentang Pemberan-tasan Tindak Pidana Korupsi, juga terdapat jenis tindak lain yang berkaitan dengan tindak pidana korupsi, yakni: 1) merintangi proses pemeriksaan perkara korupsi, 2) tidak memberi keterangan atau memberi keterangan yang tidak benar, 3) bank yang tidak memberikan keterangan rekening tersangka, 4) saksi atau ahli yang tidak memberi keterangan atau memberi keterangan palsu, 5) orang yang memegang rahasia jabatan tidak memberikan keterangan atau memberi keterangan palsu, dan 6) saksi yang membuka identitas pelapor. (Lihat: KPK, Memahami untuk Membasmi. Buku Saku untuk Memahami Tindak Pidana Korupsi. Jakarta: KPK, 2006).
Saya sendiri lebih menyempitkan penelitian pada skripsi itu pada konteks deterrence (penggentarjeraan atau rasa takut) terhadap tindakan “suap-menyuap”. Dari “suap-menyuap” yang masih relatif luas itu (mengingat juga ada pasal yang memuat tentang suap-menyuap yang melibatkan hakim dan advokat), maka saya khususkan lagi hanya pada “suap-menyuap di kalangan Pegawai Negeri Sipil”. Itupun terbatas pada suatu unit kerja, yaitu sebuah Direktorat Jenderal pada suatu kantor pusat Departemen di Jakarta. Jadi, jelaslah bahwa betapa skripsi yang saya tulis itu merupakan suatu penelitian yang mengkaji masalah yang spesifik, teramat sempit. Itu terbukti dari fokus perhatian saya pada “suap-menyuap di kalangan PNS” saja mengingat sedemikian luasnya bentuk-bentuk atau jenis-jenis korupsi itu.
Bung Karno pernah berkata: pelajari sejarah perjuanganmu di masa lalu agar kamu tidak tergelincir di masa depan. Setidaknya, saya harus kembali ke tahun 2005, empat tahun yang lalu. Masih segar dalam ingatan saya, masa-masa pertama saya sebagai mahasiswa di UI. Saya sempat menghuni kamar No. 09, Blok D-1, Lantai 3, Asrama UI Depok. Dua tahun di sana. Masa-masa awal itu, sungguh masa yang indah. Hari pertama saya menghuni kamar berukuran 2,5 x 3,5 meter itu tanpa bed cover, tanpa sarung bantal, tanpa guling, dan tanpa perlengkapan yang cukup. Untuk melapisi badan dari suhu yang dingin ketika tidur di malam hari, saya memakai kain sarung yang saya bawa dari Padang. Kendati masih tanpa perlengkapan yang layak dan memadai untuk beberapa hari, tapi saya begitu gembira. Ya, saya sangat senang. Tidur saya nyenyak. Sulit mengungkapkan bagaimana perasaan saya ketika itu. Memang kamar itu tidak begitu luas. Namun, sangat berharga dalam membangunan karakter (character building) pribadi saya, baik sebagai mahasiswa maupun sebagai manusia. Saya di UI bukan hanya belajar, tetapi juga telah ikut merasakan roh dan denyut jantung intelektual dengan segenap civitas academica-nya.
Serangkaian rasa syukur dan ucapan terima kasih di atas, rasanya akan lebih sempurna lagi jika saya kembali menyadarkan diri bahwa hanya dengan perencanaan, kerja keras, dan do’a yang sungguh-sungguhlah – apa yang kita kehendaki dapat terwujud secara nyata. Saya kebetulan terikat dengan sebuah dongeng (mimpi) untuk hidup lebih baik dari masa lalu. Sementara, kenyataan yang hadir di depan mata terkadang begitu keras, pahit, dan kejam. Hidup itu sungguh dinamis. Namun, api semangat untuk memahami kehidupan ini dengan lebih dewasa – harus senantiasa dikobarkan. Hanya dengan kesabaran dan tawakkal kita mampu untuk mengurangi beban berat yang tengah dipikul. Kini, betapa sebagian dari dongeng (mimpi) dan kenyataan itu telah menjadi satu, dan dengan segala keterbatasan, hanya kepada Allah SWT – saya berserah diri.
Barang siapa yang terlalu bangga akan kesuksesan masa lalu – dengan serta-merta mengabaikan pihak lain yang kini mungkin telah mengalami lompatan jauh di depannya – agaknya telah disadarkan oleh kian kompetitifnya zaman ini. Lebih dari itu, barang siapa yang masih kurang yakin akan pentingnya penguasaan ilmu pengetahuan, terutama di era sekarang, tampaknya masih harus menunggu waktu manakala malapetaka datang mendekap mereka, dan mereka digilas habis oleh roda perubahan zaman. Tantangan kian berat. Namun, hanya dengan perangkat ilmu pengetahuan yang memadailah kita bisa berkompetisi dalam pusaran arus besar globalisasi dan lingkungan yang terus berubah. Dan, hingga kini, saya masih meyakininya.
Semoga skripsi yang amat sederhana itu membawa manfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan, terutama kajian tentang deterrence (penggentarjeraan) dalam konteks kajian kriminologi, terlebih upaya akbar dan menyeluruh dalam perang melawan korupsi di Indonesia yang kini tengah digelorakan. Semoga karya yang sederhana itu menjadi awal dari produktivitas pribadi saya di masa-masa mendatang agar lebih dewasa dalam bersikap, termasuk kewajiban berbakti kepada agama, bangsa, negara serta keluarga saya tercinta. Amin.
Sebagai orang Minangkabau yang pada umumnya sarat raso jo pareso (rasa dan periksa; perasaan sensitif), dengan segala kerendahan hati – saya meminta maaf dan terima kasih jika saya dipersepsikan secara salah/keliru/tidak pada tempatnya dalam bersikap serta membawakan diri selama ini.
Orang bijak mengatakan bahwa setiap cabang disiplin ilmu itu hanyalah gambaran sebagian kecil dari kenyataan yang serba luas dan serba rumit. Saya sendiri masih dan tetap ingin terus belajar. Dengan optimis menatap masa depan yang lebih baik, saya tutup dengan: Vivat Academia, Vivat Professores! (Hidup Ilmu Pengetahuan, Hidup para Guru!).
Depok, 1 Mei 2009
Penulis
Iwan Sulistyo
courtesy: http://www.finnair.com
Sarinah, seorang berperawakan Tionghoa — lebih mirip Jepang — lahir tepat enam puluh tahun setelah kelahiran mantan Presiden Kuba, Fidel Alejandro Castro Ruz (Fidel Castro).
Sarinah di sini bukanlah perempuan yang mengasuh dan membesarkan Bung Karno (BK). Sarinah-nya BK, ia memang telah mengajarkan BK menjadi manusia yang memahami arti pentingnya masyarakat/rakyat. Nama Sarinah begitu lekat di hati sanubarinya BK, sehingga BK terinspirasi untuk mengabadikannya menjadi sebuah nama department store pertama di Republik ini. Bagi Anda yang hilir-mudik di Jalan Thamrin-Sudirman, jalan utama di jantung Jakarta, tentu sangat mengenal swalayan itu. Jika Anda berkunjung ke sana, perhatikanlah, tulisannya masih tulisan tangan BK, bukan? Bentuk tulisannya khas tegak bersambung ala BK. Tulisan itu berwarna merah seperti ini:
***
Sekali lagi, Sarinah di sini bukanlah Sarinah-nya BK yang telah relatif berusia sepuh, melainkan seorang muda yang masih enerjik. Seorang tokoh khayalan dari seorang rekan lamaku di kampung, namanya Harto.
Sarinah — percaya atau tidak — itulah namanya. Ia pinter, di atas rata-rata. IQ-nya tinggi. Sarinah berperawakan oriental, irit bicara (sangat hemat mengeluarkan kata). Jika ditatap cermat, ada yang lain dari jidadnya. Rambutnya pendek. Jika Sarinah tersenyum lebar, terlihat sekali giginya yang rapih dan relatif kecil-kecil. Kalau lewat di depan kelas, ia gemar diintip, dicuri-pandang oleh sekelompok pria. Mudah-mudahan semua ini luput dari perhatian Sarinah kala itu. Ia berasal dari daerah belakang sekitar rumah sakit lama di sebuah kota berhawa sejuk, kota kecil yang pernah menjadi Ibukota republik ini ketika pemerintahan darurat (Desember 1948 — Juni 1949).
Siapapun, di belahan bumi manapun, harus meyakini asumsi lama para pemimpi: menonjolnya seorang cewek, betapapun rupawan wajahnya dan bagaimanapun pinter/cemerlangannya dia, senantiasa mengundang penantang-penantang baru di sekeliling atau kelompoknya. Hanya ‘keyakinan’ baru yang bakal menghalau status quo pemahaman lama. Apakah masih tetap konsisten atau menoleh lantas mencari sumber ‘ilham’ baru?
Sejarah itu tidak pernah dan tidak akan berbohong. Mungkin seseorang bisa berbohong dan bersilat lidah, tapi sejarah niscaya tetap berkata bahwa: yang benar itu memang benar dan yang keliru pastilah senantiasa keliru. Kecuali kebenaran sejarah itu dipelintir oleh orang yang memiliki kepentingan dan tidak bertanggung jawab. Pergerakan waktu tidak bisa dimundurkan. Putaran waktu itu terus berdetak, tidak bisa ditahan, tidak bisa diminta kebijaksanaannya ataupun diminta toleransinya. Dan, bahkan, tidak bisa ditagih pertanggungjawabannya.
Yang jelas, pergeseran waktu dan perubahan zaman itu tidak mempedulikan apakah “pahit-getir” atau justru “manis-indah” sebuah kenyataan yang dihadapi oleh setiap diri manusia. Sepenggal pergeseran dan perubahan zaman itu niscaya memberi isi dan memberi makna dalam kehidupan manakala senantiasa mengingat Yang Kuasa. Dialah penentu segalanya. Selembar daun yang jatuh dari rantingnya ataupun badai-ombak yang berkecamuk di lautan dan samudera pun — semua itu terjadi atas seizing Sang Khalik. Kendati begitu, manusia itu harus tetap bermimpi terus. Manusia itu harus berfikir, merenung, serta belajar dari “masa lalu”, “masa kini”, dan dengan optimis menjemput “masa yang akan datang” dalam suatu kompetisi di level duniawi. Perbanyaklah belajar dari kegagalan di masa lalu dan memperbaikinya agar tidak terjadi lagi pada masa kini dan masa depan.
Kini, Sarinah tengah mengejar mimpinya, sembari tetep konsisten mengasah ketajaman daya ukir dan daya gores tiga dimensinya. Pewarnaannya mendekati kesempurnaan. Sarinah mirip flamboyan. Anda pernah lihat bunga flamboyan? Indah, bukan? Nyaman dipandang. Di Jepang bunga ini banyak ditanam di sepanjang jalan trotoar guna mengurangi polusi dan memperindah kota. Jika flamboyan mekar, pertanda musim panas akan tiba. Di Indonesia juga ada.
Yang pasti, suaranya itu halus, sangat halus. Ia menutur laksana berbisik. Walaupun halus, seakan membelah kesunyian malam itu. Jika dilihat cermat, wajahnya lebih mirip dengan ayahnya.
Suatu siang, Sarinah berjalan pelan di depan kelas, menyusuri pinggir lapangan sekolah. Ia serius. Terkadang senyum. Angin di siang itu meniup rambutnya yang hitam. Tangannya berusaha menahannya. Dan sejumlah cowok terpukau. Termasuk dirinya.
Menjelang sore, usai belajar tambahan, seorang penyapu jalanan pernah bertemu dengannya. Bayangkan, lutut sang penyapu gemetar kala itu. Air ludahnya pekat. Detak jantungnya berdenyut kencang layaknya mesin kereta uap yang kehabisan kayu bakar. Kata yang dia ucapkan terbata-bata, sepotong-sepotong. Entah setan apa yang membungkus keberaniannya waktu itu.
Pertemuan berdialog empat mata juga pernah terjadi di kursi panjang depan kelas. Kala itu ada seekor kucing hitam menemani. Sarinah tengah menunggu jemputan. Nah, lagi-lagi kesempatan untuk diajak ngobrol. Namun, dialognya cuma sebatas membahas hal-hal yang ringan, seperti membahas sepatu yang barusan dibeli, tentang jam tangan hitam miliknya, atau komputer jinjing milik ayahnya.
Tenang saja, diskusi kecil itu tidak menjurus kepada pembicaraan tentang kepentingan paling mendasar dari hati ke hati sebagai sesama cucu Adam yang berlainan jenis. Lima belas menit lamanya, otak sang penyapu berpikir keras, apa bahan yang harus dijadikan topik pembicaraan. Ia coba rileks kala itu, tapi terlihat jelas dipaksakan. Ada rasa dag-dig-dug. Ada rasa kekakuan yang ditahan-tahan. Pembicaraan mereka beralih dari satu topik ke topik lainnya. Jadi, kalimatnya kala itu sarat jeda.
Ujung dari pertemuan di sore itu, dari sudut matanya, ia melihat satu unit Toyota Great Corolla, dengan nomer polisi tiga angka, secara pelan memasuki areal parkir sekolah. “Nah, tuh jemputannya dateng,” tuturnya. “Mana? Oh ia. Aku duluan ya!,” sahut Sarinah. “Hati-hati , ya!“, ucapnya sembari menutup pertemuan berkesan sore itu.
Jadi, praktis kondisinya kala itu berlapis tiga, (1) SMS tetep dikirim, sejauh tidak mengganggu belajar, (2) Hati tetep seneng walaupun melihat dari pintu jendela kelas, dan (3) Silakan ajak ngobrol jika cukup berani. Nah, yang lapis ke tiga itu yang paling sulit. Untuk yang lapis pertama, tidak ada masalah. Itulah kerangka dasarnya.
Perlahan, kerangka dasar itu mulai retak. Kendati belum ambruk, kerangka itu sulit dipertahankan terlalu lama mengingat perhitungan yang kurang berdasar. Harapannya, kerangka itu jangan sampai “dilucuti” oleh ancaman kekuatan “adidaya”, sebuah “kekuatan lama” yang amat berpengaruh. Kekuatan lama itu kerap mengipas “selisih dan gesekan perasaan” agar stabilitas sedikit terganggu. Memang kemunculan kekuatan lama ini tidak terus-menerus, tetapi sporadis (hanya sekali-kali terjadi). Namun, cukup membuat buyar.
Yang menjadi tanda tanya besar ialah: apakah kekuatan lama itu masih ada interaksi, katakanlah sebuah keterpaduan yang saling menciptakan ketergantungan dengannya, dengan Sarinah?
Banyak pakar melakukan analisis terkait masalah ini. Seperti biasa, pendekatan serta uraiannya terhadap masalah dari beberapa pakar itu sesuai latar belakang dan pengalaman empirik masing-masing individu mereka. Namun, rata-rata dari mereka tidak secara sempurna memberikan penjelasan. Mereka baru sanggup menjangkau sebagian kecil aspek yang terlihat dari sekian besar aspek yang tersembunyi.
Sarinah bukanlah orang sembarangan. Ia cekatan dalam mengukur suhu diplomatik antarindividu, antarkelompok kepentingan. Dan terutama piawai dalam menghindar, jika pihak luar terlalu jauh masuk dalam ranah pribadinya. Satu hal lagi, dari informasi valid dan terukur yang didapat dari intelijen sekolah — yang malah sempat bocor/tercium oleh beberapa bigos di sekolah — sebenarnya banyak “pasang mata”, mungkin kurang dari sepuluh, yang tertuju kepada Sarinah. Sudah bisa dibayangkan, tarik-menarik kepentingannya begitu alot. Anehnya, dengan modal nekat, sepasang mata penyapu jalanan itu juga ikut serta meramaikan kompetisi tawar-menawar perasaan tersebut. Pelajaran terpahit dari diplomasi selama ini adalah pelajaran klasik “diplomasi” di mana-mana: jangan baca sms-nya, lihatlah apa yang nyata terlihat di dunia nyata.
Tapi, seingetnya, Sarinah rentan sakit. Ada kemungkinan daya tahan tubuhnya lemah. Beliau dulu pernah mengungkapkan: “Badanku sakit. Rasanya kyk di-smack down.” Semoga sekarang sehat-sehat saja.
Sudah menjadi hukum besi dalam “diplomasi anak muda”, suatu persetujuan yang dicapai di meja perundingan amat tergantung dari perimbangan “diplomasi” yang ada di lapangan. Hukum besi tak terlalu dihiraukan ketika mandala sekolah — yang sepatutnya ranah akademik — dinodai dengan tawar-menawar emosi yang belum matang. Tak ayal, kejadian ini — di belahan bumi manapun — berlanjut, lintas-zaman dan lintas-generasi.
Ah, entah mengapa, merenungkan semua ini, seketika ia teringat ucapan Kahlil Gibran (1883-1931). Penyair yang lahir di Basyari, Libanon, dari keluarga katholik-maroni 126 tahun silam itu berkata: Ketika tiba saat perpisahan janganlah kalian berduka, sebab apa yang paling kalian kasihi darinya mungkin akan nampak lebih nyata dari kejauhan – seperti gunung yang nampak lebih agung terlihat dari padang dan dataran.
Agaknya, Gibran berupaya meyakinkan kita semua agar jangan terlalu bersedih — atau jangan terlalu cengeng — manakala didekap oleh kondisi perpisahan ataupun jauh dari sanak saudara atau siapa saja yang dikasihi. Lebih dari itu, dengan kata lain — menurut Gibran — melihat yang dikasihi itu niscaya akan terasa lebih dekat, lebih indah, lebih nikmat, lebih nyaman, & — tentu saja — “lebih nyata” dari kejauhan. Dan, sebagaimana Gibran, ia juga meyakininya. Ya, dengan segala kerendahan hati — memang masih tetap meyakininya.
Ah, sunyi senyap malam ini. Hening, tiada riak yang mengusik. Ia merinding. Tertunduk malu. Pelan, semesta terdiam. Itulah dongeng jelang tidurnya di malam ini. Memang, dongeng — suatu yang lepas dari dimensi kenyataan.
Putih dan abu-abu itu — endapannya niscaya menghasilkan buih yang sukar dicerna. Sebagian mengendap tiada sisa. Sebagian lagi, dengan senyum simpulnya — menguap, menyapa, menyalami, mengoreksi, bahkan mengutuk hari esok. Putih & abu-abu itu — mengapung di langit Jakarta, mampir sebentar di Padang, lewat jalan Sudirman, menyelami Samudera Hindia, lantas kembali lepas-landas, pecah, membumbung tinggi di angkasa, nyangkut di tenggorokannya. Perih rasanya.
Percikan sinarnya — putih & abu-abu itu — mengagetkan ikan di aquarium, burung yang sedang murung di sangkarnya, buruh-buruh di pabrik, para pelajar di sekolah, para tukang becak yang sedang mengayuh di jalanan, para pedagang asongan di pasar, para pemain bola yang sedang latihan di lapangan, para filsuf yang tengah berpikir, segerombolan pengamen di bis kota, sekelompok penyapu jalanan, para dosen yang sedang mendidik, para cendekiawan di perpustakaan, para pejabat eselon I, hingga Paduka yang Mulia di Singgasana Istananya.
Betapa Sarinah telah berbaik hati untuk meminjamkan satu jilid dongeng itu. Dan ia harus dan wajib mengembalikannya. Era 2004-an itu rasanya lembut, indah, dan cantik sekali. Untung saja Sarinah tak tercemplung ke dalam ketamakan dan keserakahan para kolega lawan jenisnya di sekolah kala itu.
Agaknya, kini semakin kuat pemahaman bahwa di dalam hidup ini terdapat dua simpul yang saling bertaut abadi: suka-duka, susah-senang, tawa-tangis, senyum-cemberut, semangat-apatis, sukses-gagal, hidup-mati, dan masih banyak lagi.
Yang pasti, dongeng: suatu yang memang lepas dari kenyataan. Walaupun memang lepas, samar-samar masih tetap terlihat.
Yang jelas, kehendak pragmatis jangka menengah terlalu penting jika hanya mengorbankan tujuan mendasar jangka panjang yang lebih besar. Letupan emosi sesaat yang belum matang terlalu rumit jika hanya menafikan kenyataan real di lapangan.
Perubahan secara cepat — jika memang haram disebut sebagai suatu revolusi — memang belum usai. Sarinah sendiri sudah menyumbangkan separo senyumnya. Nah, kini, balas-membalas pesan singkat yang relatif lama via mobile phone — sudah tamat. Gelanggang sandiwara telah ditutup. Tugas sang aktor telah rampung, perannya pun usai.
Ia pamit. Seketika mengepakkan sayapnya. Ya, sekuat tenaga. Berarak pulang. Membelah udara yang pekat. Terbang, menerjang badai. Tinggi di awan. Lantas menghilang di langit yang hitam. Menggapai cita-citanya. Dan, tentu saja, ia milik masa depannya. Winging swiftly through the sky.
Sementara, ia tetap di sini. Mukanya tetap datar. Ia masih seperti dulu. Duduk sendiri melawan emosinya sendiri. Namun, keberanian yang paling bagus adalah sikap untuk menahan fluktuasi emosi diri sendiri itu dengan cara tidak mengganggu lagi. Ia sekarang merasa lebih nyaman. Lebih dari itu, ia kembali ke alam waras.
Ahli filsafat bilang: jarak terjauh yang ditempuh oleh setiap manusia adalah antara kepala dan hatinya. Maksudnya, dalam menilai seseorang atau memahami suatu keadaan, hendaklah menggunakan akal sehat dan perasaan.
Rentang 2003 hingga 2009, enam tahun lamanya, rasanya sudah cukup melelahkan. Ah, sensitifitas takluk. Kecengengan kalah. Akal sehat menang. Logika menang. Ya, kebenaran menang. Demokrasi menang. Dan dalam pemahaman yang lebih spesifik, ia pun menang di dalam perang yang lebih besar di dalam dirinya sendiri. Ia diam dengan caranya sendiri dan, tentu saja, ia tenang dengan sikapnya sendiri.
Dan seekor panglima semut merah yang berbaris di dinding itu mencuri pandangannya. Dengan suaranya yang serak mewakili barisan prajuritnya, tanpa menatap curiga, ia lantas berteriak: “Bung, kami layak bertepuk tangan!“
Tiba-tiba ledakan dahsyat menghentak kesunyian malam. Betul. Kerajaan dongeng hancur lebur. Sang Raja mangkat. Putra Mahkota alhpa. Takhta tergadai. Ribuan prajurit gugur, mati konyol. Rakyat sipil diungsikan. Dentuman senapan dan meriam berhenti. Perang pun usai. Hanya tersisa puing-puing reruntuhan. Deru campur debu. Senyap sekali.
Syahdan, entah mengapa, sang panglima semut merah itu berupaya kembali berteriak serak. Getaran suaranya kecil. Namun, ia tak bisa mendengarnya.
Ia tak tahu, apakah kini Sarinah di sana masih asyik begadang dengan pensil dan meja gambarnya, bergurau mesra dengan rekan “sejawat”-nya, atau bahkan telah tertidur pulas dengan jam hitam (entah masih ada) yang selalu lekat di tangannya.
Dus, ia ingin sekali mengucapkan slogan penutup “selamat malam”: “met bo2, mimpi yg indah”. Oh ya. Pekan kedua bulan depan, Sarinah genap 23 tahun, “met ultah ya”. Sungguh dua slogan yang memang telah kadaluarsa (expired). Sudah pasti diabaikan. Tak didengar.
Seiring larutnya malam, hening kian mengental. Di luar, terlihat langit bermandikan cahaya bintang. Bulan pun bersinar. Ah, betapa indahnya. Sunyi-senyap malam ini. Beberapa potong lapis legit masih tersisa. Tapi, kopi di cangkir sudah mengering. Ia harus akhiri tulisan ini. Matanya sudah tidak bisa diajak kompromi. Cicak yang menempel di dinding menegurnya. Ia memainkan lidahnya dan bersuara: “Tek…tek…tek…tek… .” Seakan mengingatkannya agar segera berbaring. Ya, memang ia harus akhiri.
Memang, letupan emosi pribadi yang masih belum matang terlalu berisiko jika diperturutkan. Ia harus menjadi dirinya sendiri, berdiri di atas kakinya sendiri.
Ah, keheningan malam masih terasa begitu kental. Dan, baginya, itu seakan berlaku 24/7. Dua puluh empat jam setiap hari, tujuh hari sepekan.
Gede Prama, seorang guru kehidupan yang kini menetap di Desa Tajun, Bali Utara, dalam sebuah bukunya mengatakan,
pikiran tercerahkan bisa menghilang dengan mudah ketika manusia tergoda dengan sebutan benar-salah. Tatkala sebutan benar-salah tidak lagi menggoda, yang tersisa hanya satu: hening.
Ia sudah menghitung dengan cermat. Ia masih ingin terus menapakinya. Tapi beberapa orang senator di Senat sana menyuruhnya agar segera diam. Sebelum ketok palu berdentam di atas meja, memang ia sempat menarik napas panjang. Hanya dengan keberanian politik yang tanpa mengeluh, ia bisa melakukan “lompatan katak” dari status quo yang tak ubahnya seperti “lingkaran kegelisahan” tak berujung, hampir enam tahun yang lalu itu. Jalan memang masih panjang dan berliku. Setiap langkah yang ia gerakkan haruslah dengan perhitungan yang cermat.
Menakar itu penting. Sebab, ada kalanya di sebelah kiri atau kanan, terdapat jurang yang dalam dengan bebatuan runcing menganga, menyiapkan “kubur abadi” jika tak hati-hati. Sebelum ia lebih jauh menapaki jalan yang sarat ketidakpastian itu, ada baiknya ia berhenti sejenak. Menoleh ke belakang. Merenung, apa-apa yang telah ia perbuat selama ini. Ia mungkin telah banyak berbuat “dosa”, layaknya manusia biasa. Di hari depan, ia ingin sekali mengabdi, menjadi seorang pendidik. Syukur-syukur sampai jadi professor.
Ada pelajaran berharga yang dapat dipetik: dalam memahami rumitnya pribadi seseorang atau kompleksnya masalah/keadaan, hendaklah secara rinci dan cermat. Pahami lapis demi lapis serta keterkaitan antara satu variabel dengan variabel lainnya. Walaupun rumit tali-temalinya namun, lazimnya, pada suatu saat, bakal ditemukan simpul-simpul pencerahan. Simpul pencerahan yang akan membuat senyum simpul merekah di wajah.
Figur Sarinah — sebagaimana sarinah tua telah memberi sumbangan kepada pribadi BK — secara tidak langsung telah menyadarkan ia untuk kembali ke “jalan yang lurus”, setelah beberapa waktu sesat jalan ke alam “entah-berantah”.
Dus, baginya, memang sudah saatnya kembali ke “jalan lurus”, yang di dalam pribahasa Jawa disebut: mikul dhuwur, mendem jero (memikul/menjunjung setinggi-tingginya, memendam/mengubur sedalam-dalamnya).
Oh, Tuhan. Ia, bukan Sarinah tentunya, jelas telah memakai kaca mata kuda. Semuanya lagi-lagi berlaku 24/7. Dua puluh empat jam setiap hari, tujuh hari sepekan. Ya, kenyal, lentur, dan fleksibel, laksana katapel.
Jangan ditarik sekuat-kuatnya. Sebab, kalo semakin jauh ditarik/diregang, maka semakin kuat daya jangkau dan daya jelajah bebannya. Akibatnya, sudah pasti, bakal kian jauh terpelanting ke alam “antah-berantah” itu. Dua puluh empat dalam tujuh dan tujuh dalam dua puluh empat.
Terus, terus, dan terus. Tiada henti.
Meminjam Khairil Anwar, tulis karena kertas gersang, tenggorokan kering sedikit mau basah! Yang jelas, Sarinah telah bahagia di sana. Ya, di sananya sana. Hanya kebesaran jiwa yang tulus yang sanggup melindas sekat-sekat ganjalan selama ini. Hanya dengan demikianlah stabilitas dapat tercipta. Ya, menahan diri — kunci stabilitas.
Semoga kecenderungan ke arah itu segera nampak, sehingga memungkinkannya untuk mengayunkan langkah ringan tanpa beban ke Jawa bagian tengah, Januari 2010 mendatang.
Kini ia, bukan Sarinah tentunya, baru sadar, bahwa — meminjam slogannya Soe Hok-gie ketika di FSUI era 60-an — “buku, pesta, dan cinta” itu memang saling mengisi. Satu dengan yang lain tidak bisa dipilah-pilah, suatu yang simultan. Merupakan kohesivitas yang utuh, terintegrasi, dan tak terpisahkan.
Bagaimanapun, baginya (bukan bagi Sarinah pastinya) — buku, pesta, dan cinta — itu berpadu dalam satu arus emosi yang berkelanjutan.
Demikianlah, kebahagiaan orang lain — bagaimanapun juga — jauh lebih penting dan lebih mendasar dari kepentingan jangka pendek diri sendiri. Sungguh, ia tak pernah mengeluh.
Dan waktu telah menggilas segalaya.
Kosan Pondok Jingga, Selatan Ibukota,
3 jam jelang azan Shubuh, medio Juli 2009
Tampilnya Chindia (China dan India), sebagai kekuatan yang bakal setara Uni Eropa dan Amerika Serikat, kerap memukau sebagian besar kita. Keberhasilan dua negara itu bukan tanpa biaya tinggi. Disadari, kemiskinan di Chindia masih tetap ada kendati relatif sedikit. Namun, dua negara ini sadar benar bahwa hanya dengan perangkat otak yang kuatlah mereka mampu kompetitif di pasar global.
Bukan berarti Indonesia harus meniru China ataupun India dalam mengelola ekonominya. Tidak berarti pula Indonesia membangun suatu zona ekonomi khusus persis menyerupai China. Akan tetapi, penting untuk pemerintah membangun suatu sistem yang berkeadilan, yakni menghadirkan suatu birokrasi yang nyaman, ringkas, dan tidak menyulitkan bagi siapa saja yang hendak berinvestasi di Tanah Air, tanpa harus menutup mata terhadap amanah Pasal 33 UUD 1945.
Jangan sampai pada Juli mendatang, saat di mana seorang putera terbaik bangsa terpilih sebagai presiden RI baru, “suasana kebathinan” sebagian besar masyarakat Indonesia masih kental dengan tanda tanya karena sang RI-1 tidak memiliki arah yang jelas atau bahkan lupa akan segala janji-janjinya.
Pada akhirnya, stabilitas diperlukan guna menciptakan pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Pembangunan yang merata dan meluas memungkinkan untuk menciptakan lebih banyak lagi individu maupun kelompok masyarakat di Indonesia yang terangkat harkat dan martabatnya melalui pemenuhan akan 5 (lima) hak dasar: hak sipil, hak politik, hak ekonomi, hak sosial, dan hak budaya. Kelima hak yang tentu saling terpadu, terintegrasi, dan tak terpisahkan satu dengan yang lain.
Untuk pulih dari krisis global, tentu tidak cepat. Dengan pertumbuhan ekonomi 4-5% saja, mungkin sudah menggembirakan. Presiden terpilih nanti bukan seorang yang punya tongkat ajaib yang secara simsalabim sanggup menjawab dan melahap habis segala masalah bangsa.
Saatnya kian dekat untuk meninggalkan lingkaran setan “siapa mendapat apa, kapan dan bagaimana” dengan betul-betul menoleh ke ranah yang lebih penting dan sangat massif, yakni: keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Tanpa itu, tidak menutup kemungkinan bakal terjadi letupan-letupan di pelbagai pelosok. Perut yang lapar dan ketimpangan ekonomi niscaya menjadi salah satu penyebab.
Sang RI-1 harus mampu menangkap lantas mengejawantahkan pesan sejarah: mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut serta menciptakan perdamaian dunia. Mungkin tidak memaksakan diri untuk lari cepat. Namun bisa dengan maraton secara perlahan, tapi mantap.
Beberapa waktu lalu, mantan Presiden BJ Habibie menyarankan, penting untuk pemerintah merancang suatu GBHN (Garis-garis Besar Haluan Negara). Saran itu dapat dimaknai sebagai bagian dari koreksi atas keberlanjutan reformasi yang telah berjalan lebih satu dekade. Saran beliau ini berdasar dan patut direnungkan. GBHN layak ditilik bukan sebagai suatu produk Orde Baru yang mengandung energi negatif. Presiden terpilih, bisa merinci visi (arah) serta misinya dalam GBHN.
Betapa banyak capres yang cerdas beretorika kualitatif. Namun, hanya segelintir yang tegas dalam bersikap ke mana arah ekonomi yang hendak dijalankan. Sayang sekali, hanya sedikit pula dari mereka yang cekatan dalam menutur dengan nada kuantitatif, terukur, dan realistis.(*)
Iwan Sulistyo, Mahasiswa Kriminologi UI

Recent Comments