Ada suatu dalil lama dalam politik. Dalil lama itu berbunyi: “Manakala seseorang dapat mempertahankan kekuasannya, maka suatu waktu keabsahan akan datang memeluknya.”

Agaknya, dalil lama di atas telah dibuktikan oleh Pak Harto. Ia berkuasa selama 32 tahun dan menyatakan berhenti — sekali lagi, menyatakan berhenti — pada Kamis, 21 Mei 1998 karena didesak oleh pelbagai aspek.

Jauh sebelum Jenderal Besar berbintang lima itu menutup mata untuk selama-lamanya pada Minggu, 27 Januari 2008, secara pribadi, sejak SD saya sudah mengagumi beliau. Itu tentu terlepas dari sisi gelap putera Kemusuk, Jogjakarta itu.

Bahkan, hingga menginjak pendidikan tinggi di UI, ada sejumlah gambar Pak Harto yang saya tempel di dinding lemari pakaian ketika saya masih di Gedung D I. kamar 3 09 Asrama Mahasiswa UI Depok.

Sebagai generasi kelahiran tahun 1986, saya ucapkan terima kasih kepada Pak Harto yang telah terlibat secara langsung dalam merebut dan mengisi kemerdekaan Bangsa Indonesia.

Maka tugas kitalah para generasi berikutnya untuk mengisi ulang keindonesian ini dengan hal-hal yang sarat dengan nilai positif agar Indonesia betul-betul kian kompetitif di pasar global.

Selamat Jalan Pak harto. Kiranya Allah SWT melapangkan ruang buat engkau di dalam kubur.

Rasanya, penggalan uangkapan saya tentang Pak Harto ini lebih lengkap lagi jika ditambah dengan pesan almarhum Bung Karno yang beliau tulis di secarik kertas: “Hargailah Pahlawan“. Beliau katakan: Pahlawan sejati tidak minta dipuji jasanya. Bunga mawar tidak mempropagandakan harumnya. Tetapi, harumnya dengan sendiri semerbak ke kanan-kiri. Tetapi, hanya bangsa yang tahu menghargai pahlawan-pahlawannya dapat menjadi bangsa yang besar. Karena itu, hargailah pahlawan-pahlawan kita!