Berikut merupakan kata pengantar & ucapan terima kasih dalam skripsiku. Karena bagian pengantar/ucapan terima kasih ini aku posting di blog, maka dengan sendirinya, kata “ini” aku telah ganti dengan kata “itu” untuk setiap pemakaiannya dalam kalimat. Adapun judul skripsiku: DAMPAK DARI KEBERADAAN, WEWENANG, DAN KINERJA KPK (KOMISI PEMBERANTASAN KORUPSI) TERHADAP PERSEPSI RISIKO PENGHUKUMAN BILA MELAKUKAN TINDAKAN SUAP-MENYUAP DI KALANGAN PNS (PEGAWAI NEGERI SIPIL), DIREKTORAT JENDERAL X, DEPARTEMEN Y

KATA PENGANTAR/UCAPAN TERIMA KASIH

DALAM SKRIPSI

SKRIPSI IWAN(dok pribadi)

Saya bersyukur kepada Allah SWT karena atas berkat dan rahmat-Nya saya dapat merampungkan skripsi itu. Saya menyadari, skripsi yang saya tulis itu bukan merupakan suatu yang instant. Itu buah dari suatu proses yang relatif panjang, menyita segenap tenaga dan fikiran. Penulisan skripsi itu saya lakukan dalam rangka memenuhi salah satu syarat untuk mencapai gelar Sarjana Sosial dari Departemen Kriminologi, FISIP-UI. Yang pasti, tanpa segenap motivasi, kesabaran, kerja keras, dan do’a – mustahil saya sanggup untuk menjalani tahap demi tahap dalam kehidupan akademik saya di FISIP-UI, 4 (empat) tahun lamanya.

Dengan segala kerendahan hati, ucapan terima kasih yang tak terhingga, wajib saya berikan kepada:

  1. Prof. Dr. Muhammad Mustofa, M.A., Guru Besar bidang Metodologi dalam Kriminologi FISIP-UI, yang telah berkenan membimbing saya dalam penulisan skripsi selama 2 (dua) semester. Betapa arahan/petunjuk/bimbingan dari beliau telah menyadarkan saya akan pentingnya penguasaan teori serta metode dalam kriminologi.
  2. Dr. Todung Mulya Lubis, S.H., LLM. yang telah berkenan sebagai penguji ahli pada skripsi saya. Ditengah kesibukan beliau, saya beruntung karena telah diberi kesempatan untuk diuji dan kemudian diberi masukan oleh beliau.
  3. Bapak Salman, yang telah membantu saya dalam menyebar kuesioner/angket di Direktorat Jenderal X, Departemen Y. Kepada Bapak “AM” – yang pada waktu itu menjabat sebagai Sekretaris Direktur Jenderal X Departemen Y – juga terima kasih. Beliaulah, atas seizin Dirjen, yang telah memperkenankan saya untuk melakukan penelitian di sana. Dan Alhamdulillah, penelitian itu terlaksana dengan baik.
  4. Prof. Adrianus Eliesta Sembiring Meliala, M.Si., M.Sc., Ph.D., sebagai Ketua Departemen Kriminologi FISIP-UI dan Drs. Eko Haryanto, M.Si. sebagai Ketua Program S1 Reguler Kriminologi FISIP-UI.
  5. Bang Iqrak Sulhin, S.Sos., M.Si. – yang 4 (empat) tahun lamanya berperan sebagai PA (Pembimbing Akademik) saya di UI. Segenap staf pengajar – Mas Yogo Tri Hendiarto, S.Sos., M.Si., Mas Kisnu Widagso, S.Sos., M.TI., Mbak Herlina Permata Sari, S.Sos., M.Crime., dan Bang M. Irvan Olii, S.Sos., M.Si. Betapa beliau semua sangat berjasa dalam menggembleng saya, terutama dalam pemahaman atas pelbagai konsep dalam kriminologi. Terus-terang, saya berhutang budi kepada mereka. Pemikiran dan cara pandang saya dalam melihat serta memaknai pelbagai persoalan sosial, sangat dipengaruhi oleh pemikiran mereka. Empat tahun berinteraksi dengan mereka, sangat membuka cakrawala saya. Lebih dari itu, betapa uraian kuliah yang saya cermati di ruang kuliah serta percikan pemikiran mereka semua, sangat mendorong saya untuk belajar lebih giat lagi. Kepada Mas Arif dan Pak Hadi, juga terima kasih atas bantuan administrasi-nya.
  6. Bapak Sudarisman dan Ibu Nurlis, orang tua saya, yang telah membesarkan dan mendidik saya. Saya mutlak berterima kasih dan sekaligus meminta maaf kepada beliau berdua karena hanya dengan dukungan beliau berdualah saya dapat melanjutkan pendidikan saya hingga perguruan tinggi. Saya menyadari, tanpa beliau berdua, mustahil saya bisa menjadi sekarang. Begitu banyak pengorbanan yang beliau berikan kepada saya, dari kecil hingga dewasa. Pengorbanan serta kasih sayang yang tak terhitung dan tak terhingga banyaknya. Kepada Om Pen dan Tante I serta segenap keluarga besar – ucapan terima kasih juga wajib saya berikan. Kepada adik-adik saya: Meiti Sulistika (Tika), Yuni Safitra (Yuni), dan Yona Safitri (Yona)– juga terima kasih atas dukungannya.
  7. Pak Wid dan keluarganya, karena pada saat mengikuti Bimbel di Nurul Fikri Kalimalang pada 2004 silam, saya telah sempat numpang menginap di sebuah kamar di lantai dua rumahnya di Pondok Kelapa, Jakarta Timur. Om Umin dan keluarga, juga terima kasih.
  8. Mak Tuo dan Om Sur beserta keluarganya di Cibinong, yang telah berjasa, karena ketika saya diterima sebagai mahasiswa di UI (2005), saya lagi-lagi numpang menginap sepekan di rumah beliau. Dari beliaulah saya mengenal Trie Setiatmoko (Tiko) dan Bang Awal – putra dari Bapak Riswant, satu komplek di Perumahan Bakosurtanal dengan Om Sur. Tiko dan Bang Awal merupakan orang pertama yang telah berjasa membawa saya ke kampus UI Depok. Di luar dugaan, ternyata, kelak, 4 (empat) tahun setelah 2005, Tiko terpilih menjadi Ketua BEM UI 2009. Saya ikut berbangga. Adapun di Balairung UI, saya bertemu dengan Andriea Salamun (Andre), yang juga telah berjasa mengenalkan saya pada Asrama UI. Lewat Andre-lah saya baru bisa tahu Asrama UI, dan kemudian memesan kamar di sana.
  9. Para sejawat saya di UI: Andreas (sangat berjasa dalam membantu ke kantor di daerah Salemba), Hadi (putra Hakim Agung Prof Takdir Rachmadi, teman dari SD hingga kuliah), Abdul (yang berjasa menemani saya ke Klinik ketika saya terserang tifus & DBD), Da Taqwa (berjasa membantu tatkala saya gagap akan teknologi), Fachrul, Tulus Ranu dan Tulus Krim, Ladiansyah, Fauzan, Waldi, Didi, Rara, Mahar, Guntarsih, Nadia, Dini, Atin, dan semuanya. Maafkan saya jika saya lupa menulis nama karena sedemikian banyaknya.
  10. Rekan-rekan aktivis mahasiswa, ketika saya terlibat di dalam kepengurusan Departemen Keilmuan Senat Mahasiswa (kini BEM) FISIP-UI 2006/2007. Mereka adalah: Farid (entah di mana sekarang), Adli ‘Oeddin’ (yang kini sering tampil di layar kaca karena sudah menjadi reporter di Metro-TV), Pandu, Anas, Deta, dll. Apakah jargon “berbobot dan bersahabat” masih tetap menyala?
  11. Semua pihak yang mustahil saya sebutkan satu per satu, yang telah berjasa kepada saya. Kiranya Tuhan YME membalas kebaikan mereka.

Pada awalnya, saya hendak menulis skripsi tentang “korupsi”. Akan tetapi, karena sedemikian luasnya korupsi itu – sebagaimana dapat dicermati di dalam Undang-Undangnya (UU No. 31 Tahun 1999 jo. UU No. 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi) – maka saya dianjurkan oleh Prof. Mus (pembimbing saya) untuk memilih yang lebih spesifik. Dalam kaitan ini, KPK telah mengelompokkan variasi tindak pidana korupsi menjadi 30 (tiga puluh) bentuk/jenis. Dari ketiga puluh bentuk/jenis itu, dapat dirumuskan menjadi 7 (tujuh) bentuk/jenis tindak pidana korupsi, yakni 1) kerugian keuangan negara,  2) suap-menyuap, 3) penggelapan dalam jabatan, 4) pemerasan,  5) perbuatan cu-rang, 6) benturan kepentingan dalam pengadaan, dan 7) gratifikasi. Selain itu, menurut UU No. 31 Tahun 1999 jo. UU No. 20 Tahun 2001 tentang Pemberan-tasan Tindak Pidana Korupsi, juga terdapat jenis tindak lain yang berkaitan dengan tindak pidana korupsi, yakni: 1) merintangi proses pemeriksaan perkara korupsi, 2) tidak memberi keterangan atau memberi keterangan yang tidak benar, 3) bank yang tidak memberikan keterangan rekening tersangka, 4) saksi atau ahli yang tidak memberi keterangan atau memberi keterangan palsu, 5) orang yang memegang rahasia jabatan tidak memberikan keterangan atau memberi keterangan palsu, dan 6) saksi yang membuka identitas pelapor. (Lihat: KPK, Memahami untuk Membasmi. Buku Saku untuk Memahami Tindak Pidana Korupsi. Jakarta: KPK, 2006).

Saya sendiri lebih menyempitkan penelitian pada skripsi itu pada konteks deterrence (penggentarjeraan atau rasa takut) terhadap tindakan “suap-menyuap”. Dari “suap-menyuap” yang masih relatif luas itu (mengingat juga ada pasal yang memuat tentang suap-menyuap yang melibatkan hakim dan advokat), maka saya khususkan lagi hanya pada “suap-menyuap di kalangan Pegawai Negeri Sipil”. Itupun terbatas pada suatu unit kerja, yaitu sebuah Direktorat Jenderal pada suatu kantor pusat Departemen di Jakarta. Jadi, jelaslah bahwa betapa skripsi yang saya tulis itu merupakan suatu penelitian yang mengkaji masalah yang spesifik, teramat sempit. Itu terbukti dari fokus perhatian saya pada “suap-menyuap di kalangan PNS” saja mengingat sedemikian luasnya bentuk-bentuk atau jenis-jenis korupsi itu.

Bung Karno pernah berkata: pelajari sejarah perjuanganmu di masa lalu agar kamu tidak tergelincir di masa depan. Setidaknya, saya harus kembali ke tahun 2005, empat tahun yang lalu. Masih segar dalam ingatan saya, masa-masa pertama saya sebagai mahasiswa di UI. Saya sempat menghuni kamar No. 09, Blok D-1, Lantai 3, Asrama UI Depok. Dua tahun di sana. Masa-masa awal itu, sungguh masa yang indah. Hari pertama saya menghuni kamar berukuran 2,5 x 3,5 meter itu tanpa bed cover, tanpa sarung bantal, tanpa guling, dan tanpa perlengkapan yang cukup. Untuk melapisi badan dari suhu yang dingin ketika tidur di malam hari, saya memakai kain sarung yang saya bawa dari Padang. Kendati masih tanpa perlengkapan yang layak dan memadai untuk beberapa hari, tapi saya begitu gembira. Ya, saya sangat senang. Tidur saya nyenyak. Sulit mengungkapkan bagaimana perasaan saya ketika itu. Memang kamar itu tidak begitu luas. Namun, sangat berharga dalam membangunan karakter (character building) pribadi saya, baik sebagai mahasiswa maupun sebagai manusia. Saya di UI bukan hanya belajar, tetapi juga telah ikut merasakan roh dan denyut jantung intelektual dengan segenap civitas academica-nya.

Serangkaian rasa syukur dan ucapan terima kasih di atas, rasanya akan lebih sempurna lagi jika saya kembali menyadarkan diri bahwa hanya dengan perencanaan, kerja keras, dan do’a yang sungguh-sungguhlah – apa yang kita kehendaki dapat terwujud secara nyata. Saya kebetulan terikat dengan sebuah dongeng (mimpi) untuk hidup lebih baik dari masa lalu. Sementara, kenyataan yang hadir di depan mata terkadang begitu keras, pahit, dan kejam. Hidup itu sungguh dinamis. Namun, api semangat untuk memahami kehidupan ini dengan lebih dewasa – harus senantiasa dikobarkan. Hanya dengan kesabaran dan tawakkal kita mampu untuk mengurangi beban berat yang tengah dipikul. Kini, betapa sebagian dari dongeng (mimpi) dan kenyataan itu telah menjadi satu, dan dengan segala keterbatasan, hanya kepada Allah SWT – saya berserah diri.

Barang siapa yang terlalu bangga akan kesuksesan masa lalu – dengan serta-merta mengabaikan pihak lain yang kini mungkin telah mengalami lompatan jauh di depannya – agaknya telah disadarkan oleh kian kompetitifnya zaman ini. Lebih dari itu, barang siapa yang masih kurang yakin akan pentingnya penguasaan ilmu pengetahuan, terutama di era sekarang, tampaknya masih harus menunggu waktu manakala malapetaka datang mendekap mereka, dan mereka digilas habis oleh roda perubahan zaman. Tantangan kian berat. Namun, hanya dengan perangkat ilmu pengetahuan yang memadailah kita bisa berkompetisi dalam pusaran arus besar globalisasi dan lingkungan yang terus berubah. Dan, hingga kini, saya masih meyakininya.

Semoga skripsi yang amat sederhana itu membawa manfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan, terutama kajian tentang deterrence (penggentarjeraan) dalam konteks kajian kriminologi, terlebih upaya akbar dan menyeluruh dalam perang melawan korupsi di Indonesia yang kini tengah digelorakan. Semoga karya yang sederhana itu menjadi awal dari produktivitas pribadi saya di masa-masa mendatang agar lebih dewasa dalam bersikap, termasuk kewajiban berbakti kepada agama, bangsa, negara serta keluarga saya tercinta. Amin.

Sebagai orang Minangkabau yang pada umumnya sarat raso jo pareso (rasa dan periksa; perasaan sensitif), dengan segala kerendahan hati – saya meminta maaf dan terima kasih jika saya dipersepsikan secara salah/keliru/tidak pada tempatnya dalam bersikap serta membawakan diri selama ini.

Orang bijak mengatakan bahwa setiap cabang disiplin ilmu itu hanyalah gambaran sebagian kecil dari kenyataan yang serba luas dan serba rumit. Saya sendiri masih dan tetap ingin terus belajar. Dengan optimis menatap masa depan yang lebih baik, saya tutup dengan: Vivat Academia, Vivat Professores! (Hidup Ilmu Pengetahuan, Hidup para Guru!).

Depok, 1 Mei 2009

Penulis

Iwan Sulistyo