
courtesy: http://www.finnair.com
Pasca-S-1, aku ingin sekali menyambung cita-cita yang beberapa tahun silam sempat bersarang di kepalaku. Aku dulu hendak kuliah di UGM, Jogja. Dalam benakku, kuliah di kota itu mungkin nyaman dan tidak segelamor Jakarta. Tapi, takdir menghempaskanku ke UI. Apa boleh buat.
Akan tetapi, di UI aku justru mendapatkan pengalaman yang sangat berharga. Aku layak bersyukur. Aku memilih kuliah S-1 Kriminologi di UI, jika dikaji kembali, tujuannya cuma satu, yakni mendapatkan pendidikan S-1 yang kuanggap relevan dengan syarat masuk Akpol (Akademi Kepolisian) di Semarang. Sebab, Akpol mensyaratkan S-1 bagi pendaftarnya. Empat tahun berlalu di Kriminologi UI, aku justru lebih memilih dan berkiprah menjadi seorang “sipil” (civilian) saja. Memang, waktu SMA aku ingin sekali menjadi perwira di kepolisian. Tapi, sudahlah. Toh mengabdi menjadi sipil juga profesi. Yang penting, kita profesional di bidang kita masing-masing.
Insya Allah, aku akan (kembali) ke Jogja Desember mendatang untuk menyerahkan berkas-berkas kelengkapan guna mengikuti tes S2 di FISIPOL-UGM. Aku ingin sekali menjadi pengajar, di mana pun itu. Karena, aku meyakini, sebuah hadist Rasulullah SAW: Apabila meninggal seorang anak cucu adam, maka putuslah semua amal ibadahnya. Kecuali 3 (tiga) perkara, yakni: (1) sodaqoh jariah, (2) ilmu yang bermanfaat, dan (3) do’a anak yang soleh. Artinya, aku bisa menabung untuk hari akhir dengan berprofesi sebagai pendidik, transfer of knowledge.
Seorang Guru Besar di UI, di dalam rekomendasinya untuk tes S2 ku, menulis hal-hal yang dianggap kuat tentang aku: “mempunyai ambisi yang kuat untuk meningkatkan kualifikasi pendidikan“. Ya, memang, aku terlalu ambisius, dan kerap menjadikanku tidak menikmati proses yang tengah dijalani. Akan tetapi, penting untuk kucatat, menurut beliau, aku juga memiliki kelemahan, yakni: “kurang sabar, kurang teliti.” Dengan kata lain, aku harus cermat dan memperbaiki mentaliteitku. Jangan sampai kelemahan dan kelebihan itu memukul balik. Tapi sudahlah, kali ini, aku tidak akan berurai ihwal perjalanan akademikku. Namun, aku bakal bertutur tentang sepenggal cerita, yang barangkali fiktif semata.
***
Sebelum wisuda, pascalulus sidang, aku beruntung karena langsung dikontrak selama 3 (tiga) bulan untuk membantu sebuah penelitian di kampus. Cukup melelahkan. Praktis, setelah dipingpong oleh kegundahan beberapa waktu akibat beban kerja pasca lulus kuliah itu, entah mengapa, tiba-tiba aku teringat kenangan lama.
Jarang-jarang aku menulis dan memposting di blog pribadiku uraian tentang masalah yang sangat pribadi. Sebagian besar tulisan yang kuposting justru pandangan sederhana berdimensi sosial, politik, militer, dan kebudayaan. Namun, kali ini, aku harus menceritakannya. Uraian ini tentu sarat dengan subjektivitasku sebagai pribadi. Uraian yang pasti mensyaratkan kejujuran diri sendiri. Sehingga, penggalan cerita ini tidak hanya bersarang di kepalaku, tetapi juga bisa diketahui oleh para pembaca. Dengan mempertimbangkan aspek etika penulisan, maka figur yang bakal kuceritakan, kutulis dengan menggunakan initial, yakni “ Mbak X”.
Rasanya, sudah tiba waktunya aku menjelaskannya. Aku harus mulai dari awal. Aku ga tahu, kapan aku mulai memerhatikannya. Dalam pandanganku, Mbak X itu cantik. Wajahnya sedikit seperti keturunan Tionghoa, mungkin juga Jepang. Senyumnya manis. Dia irit bicara. Tidak seperti kebanyakan cewek, dia relatif tidak gemar ceplas-ceplos. Barangkali karena faktor keluarganya yang baik. Dia anak kedua dari tiga bersaudara. Dia satu-satunya anak cewek, dua lainnya cowok.
Dia gandrung kebudayaan Jepang. Dan yang ga ktinggalan, ngegambar ‘manga’ ala Jepang.
Mbak X lahir di kota yang sama denganku. Sebuah kota di pinggiran pesisir barat pulau Andalas, dengan jumlah penduduk pada 2002-2006 sekitar 819.740 jiwa dan dengan pendapatan regional per kapita pada 2005-2007 sebesar Rp 18,514,622.13, 00 . Kota itu kini tengah berbenah menuju kota besar. Dia lahir empat hari sebelum perayaan ulang tahun republik ini. Adapun tahunnya, kira-kira aja deh… hahhaha… Tapi ia sendiri bukan asli dari kota itu. Justru kampung halamannya di 92,3 km arah utara kota kelahirannya tersebut.
Orangnya pinter, di atas rata-rata. Kalo diukur secara kuantitatif, IQ nya tinggi. Aku tahu itu. Aku paling suka kalo liat mukanya kalo lg serius, apalagi jidadnya. hehehe… Rambutnya pendek (dan aku menilai, kurang proporsional jika rambutnya panjang). Kalo dia senyum lebar, kelihatan bgt giginya yang rapih & relatif kecil2… Hahha… Kalo lewat di depan kelas, dulu aku gemar ngintip-ngintip, curi pandang. Mudah-mudahan dia ga menyadarinya kala itu. Alamak….. Mampus aku….
Namanya panjang banget. Tiga kata. Aku ga terlalu paham apa arti dan makna namanya. Yang jelas, namanya itu seperti/layaknya nama kalangan kerajaan gt deh…. Hingga kini, terus terang, aku masih mencari-cari apa makna di balik namanya itu. Tapi kalo menurut http://www.indospiritual.com/index.php?p=19 , namanya itu memuat sejumlah arti:
- Kebahagiaan, kehormatan dan pernikahan
- Berkah Tuhan
- Keteguhan, kebijaksanaan, pengaruh dan kekuasaan
- Pesta, kegembiraan dan pernikahan
- Kesesatan dan kedukaan
- Sifat ragu-ragu
- Negeri dan seisinya
- Kekuatan
- Tercerai dari pasangan hidup
Hhahaha…. Percaya atau tidak, yang jelas, http://www.indospiritual.com/index.php?p=19 mendeteksi nama tidak menggunakan cara asal-asalan, melainkan menggunakan Metode Mistis Matematis Phythagoras dengan akurasi yang cukup tinggi, meski demikian segala ketentuan ada pada Tuhan, pendeteksian itu adalah salah satu ikhtiar saja.
Aku kenal Mbak X di medio Ramadhan 1424 H. Itupun melalui sms (short message service, layanan pesan singkat) via ponsel. Dengan modal nekat, kuberanikan girim sapaan. Kurang lebih bunyinya kyk gini: “Hi. Anak Smansa ya? Boleh kenalan ga?” Lantas dia menjawab: “Hmmm… boleh-boleh aja. Btw apa sebelumnya kita pernah kenalan ya?” Untuk antisipasi, aku wajib tanya tentang apa sukunya. Syukur, ternyata tidak sama denganku. Karena, dalam kebudayaan Minangkabau, jika satu suku, itu berarti satu kelompok/rumpun adat. Dan itu berarti sanak-saudara (jauh). Maka, sudah pasti, dilarang keras jika “macem”. Nah, percakapan lintas-udara itu berlanjut terus, bahkan hingga di awal masa kuliahku di UI. Akan tetapi, kini, sudah lama ga berkomunikasi.
Seiring berdetaknya jarum waktu di jam tanganku, ga terasa enam tahun telah berlalu. Namun, hingga kini, aku masih mengingat temanku yang satu itu. Aku hanya mendoakan agar beliau tetep sehat dan sukses. Kalo beliau sehat n seneng, ya aku juga serta gembira. Tp seandainya dalam kehidupannya beliau memikul beban/masalah, kendati bukan urusanku dan ga berada dalam suatu arus emosi yang sama – dari lubuk hati terdalam: sungguh aku juga ikut memikirkannya…
Kalo ditanya, apa tanggepannya terhadap tingkah nekatku 6 (enam) tahun silam itu? Apa ada responsnya? Hahahhahahahh
) Jelas, tidak ada respon. Kalopun ada, barangkali aku tidak tanggap & cekatan dalam menerjemahkannya. Lagian, dia ce yang cuek. Mana mungkin co superbiasa & superformal kyk gw gini ditanggepin? Yang bener aja… Aahahhahahaha,,,,,,,
Kadang, kalo inget kelakuan konyol gw ketika itu, gw malu. Yah, malu bgt….. Tapi, sekali-kali, gw juga kangen masa-masa itu. Masa di mana ge p’nah naksir ce ketika sma. Ahahhahahha…….. Gw bner2 gila waktu itu. Ya, separo sinting…. Separo gila… Aku dulu pernah ngasih buku ke dia sepulang liburan dari Jakarta, Januari 2004. Kalo inget kejadian itu, aku malu malu dan malu. Aduh aduh…. Knapa aku ga sadarkan diri ketika itu. Apa kabar kenangan-kenangan lama itu?
Kalo ada Doraemon yg bisa ngeluarin alat dari kantong ajaibnya, alat yg bisa ciptakan kondisi kembali ke masa lalu, gw pingin coba tuk kembali sesaat ke masa itu. Masa gw separo waras…. Separo gila…. Itu sungguh suatu nekat yg tanpa perhitungan ekstra-cermat sama sekali….
Aku sendiri termasuk kalangan yang meyakini pemahaman bahwa: menonjolnya seorang cewek, betapapun rupawan wajahnya dan bagaimanapun pinter/cemerlangannya dia, senantiasa mengundang penantang-penantang baru di sekeliling atau kelompoknya. Namun, pemahaman itu mentah seketika tatkala aku dihadapkan dengan satu kasus ini. Ini kasus luar biasa. Hanya ‘keyakinan’ baru yang bakal menghalau status quo pemahaman ini. Apakah masih tetap konsisten atau menoleh lantas mencari sumber ‘ilham’ baru? Anehnya, aku belum menemukannya.
Aku dulu bertekad, tuk ninggalin cerita lucu semasa sekolah itu di sekolah. Sungguhpun ikut, cukup sampe pintu gerbang gedung sekolah aja. Artinya, ga ikut terbang bersamaku. Tapi, sudah kuduga, kenangan itu tetep nempel dikepalaku, hingga di perguruan tinggi. Ah, sulit melupakannya. Terus terang, sejak lahir hingga nulis uraian yang jujur ini, aku blm p’nah memerhatikan lawan jenis dgn keterlaluan sperti itu. Sulit melupakannya…. Ya, aku cm bisa mengingatnya tanpa memaksakan diri tuk b’temu laangsung…
Mbak X bukan ce sembarangan. Ia pandai mengukur suhu dan tempramen kepribadian setiap co yang hendak mendekatinya. Dan terutama cekatan dalam menolak kehendak/tujuan mendasar lawan jenisnya secara lembut & manusiawi. Tapi, pemahamannya ihwal perhatian yang diberikan oleh sejumlah co yang hendak mencuri simpatinya, betapapun cermatnya, niscaya tidak mungkin mampu mengukur seberapa besar semangat juang serta seberapa tulus perhatian setiap co yang saling berkompetisi tersebut. Pelajaran terpahit dari interaksi selama ini ialah pelajaran klasik “diplomasi” di mana-mana: jangan hanya baca sms-smsnya, lihatlah apa yang nyata ada di medan laga.
Bila saatnya tiba, beban pikir yang kurasakan niscaya akan menggerakkan haluan derap langkahku ke arah pemecahan masalah yang telah dipikul selama ini. Di “sana”, kelak, suatu waktu nanti, kecenderungan ke arah itu diharapkan akan mulai nampak. Daya tahan dan keberanianku akan membuktikan betapa 6 (enam) tahun yang telah berlalu itu bakal mengoreksi sikapku. Namun, keberanian dan kenekatanku yang sekarang memang tak sebesar enam tahun yang lalu. Walaupun masih agak berani, tapi nyaliku memang sudah banyak menciut. Sms boleh saja dikirim dari Kota P, Kota J, Kota D, atau di tempat-tempat nyaman lainnya. Akan tetapi, selama nyali yang kumiliki masih redup dan tidak tahan banting, maka semakin jelas dan semakin terang betapa terbatasnya kemampuan “diplomasi”-ku.
Sejauh yang kutahu, aku kerap dipersepsikan oleh para sejawatku sebagai pribadi yg serius n tertutup. Namun, langkah separo gila yg kulakukan itu, sungguh suatu sikap yang dapat diterima sebagai alasan manusiawi, sikap yg memang luput dari pengamatan sebagian besar kolegaku semasa sekolah, hampir enam tahun yg lalu.
Siapa Mbak X itu sesungguhnya? Ah, biarlah sejarah yang menyimpan kebenarannya. Aku meyakini, sejarah itu tidak pernah dan tidak akan berbohong. Mungkin aku bisa berbohong dan bersilat lidah, tapi sejarah niscaya tetap berkata bahwa: yang benar itu memang benar dan yang keliru pastilah senantiasa keliru. Kecuali kebenaran sejarah itu dipelintir oleh orang yang memiliki kepentingan & tidak bertanggung jawab. Pergerakan waktu tidak bisa dimundurkan. Putaran waktu itu terus berdetak, tidak bisa ditahan, tidak bisa diminta kebijaksanaannya ataupun diminta toleransinya. Dan, bahkan, tidak bisa ditagih pertanggungjawabannya.
Yang jelas, pergeseran waktu dan perubahan zaman itu tidak mempedulikan apakah “pahit-getir” atau justru “manis-indah” sebuah kenyataan yang dihadapi oleh setiap diri manusia. Sepenggal pergeseran dan perubahan zaman itu niscaya memberi isi dan memberi makna dalam kehidupanku manakala diriku senantiasa mengingat Yang Kuasa. Dialah penentu segalanya. Selembar daun yang jatuh dari rantingnya ataupun badai-ombak yang berkecamuk di lautan dan samudera pun — semua itu terjadi atas seizin Sang Khalik. Kendati begitu, manusia itu harus tetap bermimpi terus. Manusia itu harus berfikir, merenung, serta belajar dari “masa lalu”, “masa kini”, dan dengan optimis menjemput “masa yang akan datang” dalam suatu kompetisi di level duniawi. Aku banyak belajar dari kegagalan di masa lalu dan memperbaikinya agar tidak terjadi lagi pada masa kini dan masa depan.
Pada akhirnya, uraian sederhana ini niscaya mengarah dan membidik kepada satu pertanyaan mendasar, yakni: di mana Mbak X sekarang? Nah, kalo memang demikian halnya, dari segi kapasitasku di masa kini, maka aku akan jawab dengan satu jawaban yang efisien: sayonara…..
Dia itu kyk flamboyan. Anda pernah lihat bunga flamboyan? Indah, bukan? Nyaman dipandang. Di Jepang bunga ini banyak ditanam di sepanjang jalan trotoar guna mengurangi polusi dan memperindah kota. Jika flamboyan mekar, pertanda musim panas akan tiba. Di Indonesia juga ada.
Yang pasti, suaranya itu halus, sangat halus. Ia menutur laksana berbisik. Walaupun halus, seakan membelah kesunyian malam itu.
Suatu siang, Mbak X berjalan pelan di depan kelas, menyusuri pinggir lapangan sekolah. Ia serius. Terkadang senyum. Angin di siang itu meniup rambutnya yang hitam. Tangannya berusaha menahannya. Dan sejumlah co terpukau. Termasuk aku.
Tapi, seingetku, Mbak X rentan sakit. Ada kemungkinan daya tahan tubuhnya lemah. Beliau dulu pernah mengungkapkan: “Badanku sakit. Rasanya kyk di-smack down.” Semoga sekarang sehat-sehat saja….
Ah, entah mengapa, merenungkan semua ini, seketika aku teringat ucapan Kahlil Gibran (1883-1931). Penyair yang lahir di Basyari, Libanon, dari keluarga katholik-maroni 126 tahun silam itu berkata: Ketika tiba saat perpisahan janganlah kalian berduka, sebab apa yang paling kalian kasihi darinya mungkin akan nampak lebih nyata dari kejauhan – seperti gunung yang nampak lebih agung terlihat dari padang dan dataran.
Agaknya, Gibran berupaya meyakinkan kita semua agar jangan terlalu bersedih — atau jangan terlalu cengeng — manakala didekap oleh kondisi perpisahan ataupun jauh dari sanak saudara atau siapa saja yang dikasihi. Lebih dari itu, dengan kata lain — menurut Gibran — melihat yang dikasihi itu niscaya akan terasa lebih dekat, lebih indah, lebih nikmat, lebih nyaman, & — tentu saja — “lebih nyata” dari kejauhan. Dan, sebagaimana Gibran, aku juga meyakininya. Ya, dengan segala kerendahan hati — memang masih tetap meyakininya.
Seiring larutnya malam, hening kian mengental. Di luar, terlihat langit bermandikan cahaya bintang. Bulan pun bersinar. Ah, betapa indahnya. Sunyi-senyap malam ini. Beberapa potong lapis legit masih tersisa. Tapi, kopi dicangkir sudah mengering. Aku harus akhiri tulisan ini. Mataku sudah tidak bisa diajak kompromi. Cicak yang menempel di dinding menegurku. Ia memainkan lidahnya dan bersuara: “Tek…tek…tek…tek… .” Seakan mengingatkanku agar segera berbaring. Ya, memang aku harus akhiri.
Aku kerap bergumam: tidak, jangan. Jangan ada lagi riak yang menyulut emosi negatif. Biarkan ia bergembira. Ya, bergembira. Menikmati kehidupan miliknya yang nyaman. Nyaman sekali. Aku tak layak intervensi. Doakan saja. Ya, mendoakannya. Aku jangan lagi ganggu kehidupan miliknya.
Lazimnya, jika orang “diganggu”, ia mungkin untuk sementara dapat menahan diri. Tapi, jika sampai pada puncaknya, ia bakal emosi. Nah, menariknya, walau diganggu, namun ia masih tetap bertutur santun. Ia masih tetap sabar. Ia mampu menahan diri. Ya, aku akui itu. Luar biasa.
Ah, sunyi senyap malam ini. Hening, tiada riak yang mengusik. Aku merinding. Tertunduk malu. Pelan, semesta terdiam. Itulah dongeng jelang tidurku di malam ini. Memang, dongeng — suatu yang lepas dari dimensi kenyataan. Putih & abu-abu itu — endapannya niscaya menghasilkan buih yang sukar dicerna. Sebagian mengendap tiada sisa. Sebagian lagi, dengan senyum simpulnya — menguap, menyapa, menyalami, mengoreksi, bahkan mengutuk hari esok. Putih & abu-abu itu — mengapung di langit Jakarta, mampir sebentar di Padang, lewat jalan Sudirman, menyelami Samudera Hindia, lantas kembali lepas-landas, pecah, membumbung tinggi di angkasa, nyangkut ditenggorokanku. Perih rasanya.
Percikan sinarnya — putih & abu-abu itu — mengagetkan ikan di aquarium, burung yang sedang murung di sangkarnya, buruh-buruh di pabrik, para pelajar di sekolah, para tukang becak yang sedang mengayuh di jalanan, para pedagang asongan di pasar, para pemain bola yang sedang latihan di lapangan, para filsuf yang tengah berpikir, segerombolan pengamen di bis kota, sekelompok penyapu jalanan, para dosen yang sedang mendidik, para cendekiawan di perpustakaan, para pejabat eselon I, hingga Paduka yang Mulia di Singgasana Istananya.
Betapa Mbak X telah berbaik hati untuk meminjamkan satu jilid dongeng itu. Dan aku harus & wajib mengembalikannya. Era 2004-an itu rasanya lembut, indah, dan cantik sekali.
Agaknya, kini semakin kuat pemahaman bahwa di dalam hidup ini terdapat dua simpul yang saling bertaut abadi: suka-duka, susah-senang, tawa-tangis, senyum-cemberut, semangat-apatis, sukses-gagal, hidup-mati, dan masih banyak lagi.
Yang pasti, dongeng: suatu yang memang lepas dari kenyataan. Walaupun memang lepas, samar-samar masih tetap terlihat.
Dan, itu berlaku 24/7. Dua puluh empat jam setiap hari, tujuh hari sepekan.
Kosan Pondok Jingga,
3 jam jelang azan shubuh, Medio Juli 2009
IS


No comments yet
Comments feed for this article