PRISMA Edisi Juni 2009(sumber: discan secara pribadi, Courtesy: LP3ES)

Hore, alhamdulillah,

Majalah PRISMA terbit lagi.

Aku sendiri kelahiran 1986. Mengenal dan membaca majalah PRISMA baru di tahun 2005-an, ketika sudah kuliah di FISIP-UI. Kebetulan, di lantai 2 gedung perpustakaan [Miriam Budiardjo Resource Center (MBRC)] FISIP-UI ada beberapa rak/lemari yang isinya seabrek majalah PRISMA edisi 1970-an, 1980-an, dan awal 1990-an. Jadi, terdapat relung waktu yang begitu panjang terkait ketidak-tahuanku akan manfaat yang dipetik dari membaca majalah itu.

Dengan kata lain, aku termasuk manusia yang telat membacanya. Hal ini dapat dimaklumi mengingat sejak 1998, PRISMA tidak terbit lagi. Tahun 1998 itu, aku sendiri baru lulus SD. Tapi tidak jadi masalah. Toh sekarang aku bisa menyelami pemikiran pelbagai penulis edisi ‘70-an, ‘80-an, dan ‘90-an itu dengan membuka lembarannya kembali. Di UI cukup lengkap dan disimpan dengan rapih. Beberapa tulisan yang enak dibaca dan memberi pencerahan terhadap teori yang kupahami — aku foto copy, lantas kubaca berulang-ulang di kamar kosan. Bahkan membaca di larut malam hingga azan shubuh terdengar. Tentu saja — sebagaimana biasa — ditemani lantunan instrumental, beberapa potong roti, dan segelas teh. Aku merasakan dan meyakini, membaca di malam hari, di tengah keheningan itu, jauh lebih meresap dan lengket di dalam kepala jika dibandingkan dengan waktu-waktu lainnya.

Sebagian penulis (penyumbang tulisan) dalam PRISMA edisi tempo dulu itu kini sudah ada yang duduk di pemerintahan, penentu kebijakan politik di republik ini. Sebagian yang lain masih tetap konsisten berada dalam ranah akademisi, think-tank, dan profesional. Sebagain juga ada yang sudah sepuh dan bahkan telah tutup usia. Namun, tulisan dan buah pikir para penulis yang kini sudah masuk ke liang kubur itu niscaya selalu “hidup” di tengah pergulatan pemikiran kekinian.

Dengan membaca majalah yang sejak 1998 tidak terbit itu — lantas sepuluh tahun sesudahnya terbit lagi — kita dapat memahami pergulatan pemikiran sosial-budaya-ekonomi kekinian. Artinya, bagi masyarakat luas — terutama kalangan dosen dan mahasiswa — PRISMA memberi pencerahan isu kekinian serta pelbagai pemikiran segar. Agaknya, teori sosial-budaya-ekonomi-politik yang njelimet yang ada di dalam buku teks ajar — dan kerap membuat kepala pening itu — semakin dapat dipahami dan bahkan juga bisa dikoreksi melalui perdebatan sehat yang disajikan oleh PRISMA.

Pada edisi pertama ini, Juni 2009, PRISMA menyajikan topik “Senjakala Kapitalisme dan Krisis Demokrasi“. Di dalamnya, terdapat tulisan Yudi Latief, Jaleswari Pramodhawardani, (wawancara dengan) Sri Mulyani Indrawati, dan lain-lain.

Bagi peminatnya, PRISMA merupakan sebuah bacaan ilmiah populer, sebagai medium perdebatan pemikiran lintas-disiplin. Aku sendiri merasa rugi jika tidak membacanya dengan cermat.

Selamat kepada Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) yang telah menerbitkannya. Semoga PRISMA pada edisi-edisi mendatang dapat menghadirkan kembali perdebatan ilmiah yang sehat, seru, dan memberi makna bagi perputaran roda sejarah bangsa kita.

Aku sendiri termasuk kalangan yang meyakini kekuatan pemikiran. Pemikiran (dan kumpulannya) itu niscaya dapat menentukan ke mana arah sebuah peradaban.

Ya, sangat.