You are currently browsing the category archive for the 'Tentang Tokoh' category.

Sumber: http://www.tokohindonesia.com/ensiklopedi/j/juwono-sudarsono/index.shtml

JS72f1c8e5f0af3c13222c36cc360f91d0.jpgProf Juwono Sudarsono

Courtesy: http://www.tempophoto.com/ & FISIP-UI

Juwono Sudarsono

Dipercaya Lima Presiden

Dia orang hebat!

Dia dipercaya lima Presiden RI. Mantan Wakil Gubernur Lemhanas, ini dipercaya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menjabat Menteri Pertahanan Kabinet Indonesia Bersatu. Pada pemerintahan Presiden Megawati, menjabat Duta Besar RI untuk Inggris (12 Juni 2003-Oktober 2004). Sebelumnya, Presiden Abdurrahman Wahid mengangkatnya Menteri Pertahanan Kabinet Persatuan Nasional (Oktober 1999-Agustus 2000).
Pada pemerintahan transisi Presiden BJ Habibie dia menjabat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Kabinet Reformasi (Mei 1998-Oktober 1999). Sementara di era Presiden Soeharto dipercaya menjabat Menteri Negara Lingkungan Hidup Kabinet Pembangunan VII (1997-1998), setelah sekian lama menjabat Wakil Gubernur Lemhanas.

Saat Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan akan mengangkat Menteri Pertahanan (Menhan) dari kalangan sipil yang mengerti soal tentara, perhatian publik langsung mengarah ke nama Juwono Sudarsono.
Selain karena dia sudah pernah menduduki jabatan tersebut pada masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid, juga karena dia lama menjabat Wakil Gubernur Lemhanas.

Juwono, anak bungsu dari empat bersaudara dari keluarga DR Sudarsono, salah seorang pendiri negeri ini yang namanya diabadikan menjadi nama jalan di kawasan Menteng, Jakarta, itu dinilai merupakan sosok sipil yang sangat paham dengan masalah militer dan juga peta politik global.
Pada 26 Oktober 1999, pria kelahiran Ciamis, Jawa Barat, 5 Maret 1942, dipercaya Abdurrahman Wahid menjadi Menhan pertama yang berasal dari kalangan sipil. Sebelumnya, pimpinan departemen ini selalu berada di tangan militer. Kepemimpinan sipil di puncak Dephan ini diharapkan dapat mereformasi kelembagaan TNI menjadi lebih profesional dan modern.
Namun, karena faktor kesehatan, alumnus “London School of Economics” di Inggris dan “Universitas Georgetown” di Washington DC, Amerika Serikat (AS), itu pun diganti pada 23 Agustus 2000. Penggantinya, Mahfud MD, Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta yang juga sipil dan fungsionaris Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).
Kemudian di era pemerintahan Presiden Megawati Soekarnoputri, dia dipercaya menjabat Duta Besar RI untuk Inggris (12 Juni 2003-Oktober 2004).
Suami Prihanum Martina, ditelepon Letjen (Purn) Sudi Silalahi untuk hadir di kediaman pribadi Yudhoyono, di Puri Cikeas Indah, Bogor, Senin (18/10/2004). Seusai berdialog dengan Presiden Terpilih Yudhoyono, Juwono mengungkapkan kepada pers bahwa dalam percakapan selama sekitar setengah jam itu, mereka banyak mendiskusikan soal pertahanan dan keamanan Indonesia, baik dalam negeri maupun luar negeri serta prospeknya.
Mantan Menteri Negara Lingkungan Hidup/Kepala Bapedal dalam Kabinet Pembangunan VII pemerintahan Soeharto, serta Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Kabinet Reformasi Pembangunan di masa Presiden Ketiga RI, BJ Habibie, ini mengaku banyak memaparkan perihal posisi Indonesia dalam pertahanan di Asia Tenggara kepada SBY.
Termasuk didalamnya, tentang rencana pembentukan “ASEAN Security Community” dan “ASEAN Economic Community” yang merupakan hasil dari Konperensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN 2003.
Menurut Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP-UI) itu, bangsa Indonesia perlu membangun kerja sama yang lebih intensif dengan beberapa negara tetangga terdekatnya, seperti Papua Nugini, Australia, Timor Leste serta negara-negara lain di ASEAN.
Setelah itu, sebagaimana kandidat menteri-menteri lainnya, Juwono mengaku disodori dan kemudian menandatangani pernyataan bermaterai tentang komitmen untuk bersama-sama membangun pemerintahan yang jujur, serta siap bekerja keras.

Anggaran TNI-Polri

Usai menerima memorandum serah-terima jabatan Menhan dari Matori Abdul Djalil yang diwakili Sekjen Dephan Suprihadi, di Jakarta, Juwono mengatakan untuk memenuhi kebutuhan TNI dan Polri, idealnya setiap tahun anggaran mencapai Rp 44 triliun hingga Rp 46 triliun. Namun sejak awal kemerdekaan hingga sekarang ini, anggaran untuk TNI dan Polri tidak pernah mencukupi guna memenuhi kebutuhan minimal sekalipun.
Matori berhalangan hadir pada acara serah terima itu karena masih dalam keadaan sakit. Hari Jumat 22/10/2004, Juwono disertai beberapa pejabat teras Dephan mendatangi rumah pribadi Matori di Perumahan Tanjung Mas di kawasan Lenteng Agung, Jakarta. Pada kesempatan itu dilakukan penandatangan naskah serah-terima jabatan Menhan.
Menurut Juwono, sejak tahun 1952 sampai sekarang masih dicari-cari jalan supaya anggaran resmi dari pemerintah bisa didukung oleh berbagai unit kesatuan usaha, koperasi, atau yayasan untuk menopang pelaksanaan tugas operasional komando taktis maupun komando utama. “Sampai sekarang Dephan dan Mabes TNI belum pernah mendapat anggaran resmi yang mencukupi,” ujarnya.
Juwono menambahkan, dalam program pemerintah yang meliputi bidang perdamaian, kesejahteraan, keadilan, dan konsolidasi demokrasi, Dephan mendapat tugas menurut hukum dan perundang-undangan membantu TNI agar prajurit mendapat perlengkapan, latihan, dan kepemimpinan serta alat-alatnya sesuai kemampuan anggaran negara.

“Tugas ini tidak mudah, karena anggaran tiap departemen pemerintah, baik sipil maupun militer, tidak pernah cukup,” ujarnya.
Menurut Juwono, dalam keterbatasan anggaran ini, untuk menjaga pertahanan negara seluas Indonesia, masih banyak hal yang harus diperbaiki. Karena itu, dia mengajak para pejabat di Dephan maupun di Mabes TNI, DPR, LSM, lembaga-lembaga riset, juga perguruan tinggi agar membahas masalah biaya dan anggaran pertahanan negara ini selama lima sampai 10 tahun mendatang.
Di bagian lain, Juwono mengatakan bahwa embargo senjata oleh pemerintah Inggris telah dicabut sejak Februari 2002. Mereka, katanya, hanya meminta agar penggunaan alat-alat senjata buatan Inggris dibatasi.
Sedangkan embargo senjata oleh pemerintah AS, masih akan dibahas. Dia akan menjelaskan kepada pejabat AS maupun LSM di sana tentang kebutuhan berbagai peralatan yang bersumber dari industri pertahanan AS. “Tetapi kita tidak akan pernah meminta-minta bantuan. Kita akan menjelaskan secepat mungkin. Kalau diizinkan oleh presiden, rencana itu dilaksanakan bulan depan atau awal tahun depan,” ujarnya. ►tsl
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

80013a6cc487353f9aa01f7def62c1b7.jpg

http://www.tempophoto.com/

Juwono Sudarsono

Perjalanan karir kementerian Juwono Sudarsono cukup fantastik. Bayangkan, dalam waktu 30 bulan, ia pernah menjadi menteri di bawah tiga presiden berbeda. Pertama kali, masuk jajaran kabinet era Soeharto, dia menjabat Menteri Lingkungan Hidup. Lalu di bawah pemerintahan Habibie, Juwono Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Dan, di bawah pemerintahan Abdurrahman Wahid, ia Menteri Pertahanan; ia orang sipil pertama yang menjabat menteri pertahanan. Sebelumnya jabatan itu selalu diisi oleh militer. Semasa menjalankan tugas sebagai Menteri Pertahanan di era Gus Dur, Juwono terserang stroke. Posisinya lalu digantikan oleh Mahfud MD. Setelah sempat menghilang dari deretan menteri selama kepmimpinan Megawati, saat itu Juwono ditugaskan sebagai Duta Besar RI di Inggris, dia kembali masuk ke jajaran pemimpin departemen. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mempercayakan jabatan Menteri Pertahanan kepadanya. Maka, Juwono Sudarsono pun terkenal dengan sebutan “menteri untuk empat presiden”.

Sebelum masuk kabinet demi kabinet, Juwono dikenal sebagai pakar ilmu politik. Masalah-masalah internasional menjadi spesialisasi pengajar di FISIP Universitas Indonesia ini.

Anak bungsu dari empat bersaudara ini dibesarkan dalam keluarga pejabat tinggi. Pria kelahiran Ciamis, Jawa Barat, 5 Maret 1942 ini putra Dr. Sudarsono (almarhum), diplomat terkenal yang pernah menjabat menteri sosial, menteri dalam negeri, dan terakhir duta besar RI untuk Yugoslavia. Sejak kecil ia sudah melalang dunia. Setelah menyelesaikan sekolah dasar di India, Juwono memasuki SMP Cikini, Jakarta. Ia kesulitan mengadaptasi bahasa. “Bahasa Indonesia saya tak becus,” tuturnya. Empat tahun kemudian, ia melanjutkan sekolah lanjutan atas di Inggris.

Pendidikan tinggi sebagian besar ia timba di luar negeri. Meraih gelar sarjana publisistik di UI, 1965, selanjutnya Juwono kuliah di jurusan Ilmu Politik dan Asian Studies di Universitas California, Berkeley, AS, 1971. Program doktornya berlangsung di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi dan Politik London, 1978. Juwono juga pernah kuliah di Institut Ilmu Sosial di Den Haag, Belanda, dan pernah pula belajar di Austria. Maka itu, bisa dibilang, dunia akamedik ini memang pas baginya.

Namun, dunia birokrasi politik pada akhirnya mendekapnya. Mulanya, semasa pemerintahan Soeharto, Juwono Sudarsono diikat untuk mengurus Lemhanas sebagai Wakil Gubernur. Dari sinilah awal mula Juwono mulai merambah jalur birokrasi politik sebagai menteri kabinet.

Sebagai orang berpengalaman mengurus departemen, Juwono termasuk cerdas mengajukan kebijakan yang sesuai dengan napas zaman. Setelah lima tahun reformasi bergulir, perlahan Juwono mulai mengisyaratkan tahap akhir reformasi di tubuh TNI. “Saat ini sedang disusun pokja yang terdiri dari Dephan dan Mabes TNI guna menyusun peta jalan TNI ke depan,” ujarnya. Salah satu agenda penting yang diajukan adalah integrasi TNI-Polri di bawah departemen yang dipimpinya. Selain itu, bisnis tentara juga menjadi proyeksi kerja yang siap diselesaikannya. Untuk hal ini, Juwono mengatakan, “Semua unit usaha di TNI akan dikonversi menjadi seperti BUMN. Jadi seperti di Thailand, akan ada BUMN militer.”

Nah, selain soal integrasi TNI di bawah Dephan dan bisnis tentara, nama Juwono akhir-akhir ini juga sering disebut terkait dengan usaha pencabutan embargo senjata dari AS. Hal terkahir ini sekarang menjadi pekerjaan rumah baginya. Dia bertekad untuk membuat lobi langsung dengan Kongres Negeri Paman Sam. “Saya akan bicara dengan Direktorat Eropa dan Amerika Utara Deplu. Masalah inti adalah membuat pemetaan, senator mana yang perlu digarap, senator mana yang bisa diyakinkan tanpa uang, dan senator mana yang perlu uang,” katanya.

Wah, betapa sibuknya bapak dua anak ini. Penggemar fotografi dan novel klasik Inggris ini tetap menyempatkan dirinya menjaga kesehatan dengan berolahraga ringan. Apalagi, pada 1999 lalu dia sempat terserang stroke. Walau demikian, “Tidak ada yang perlu dikhawatirkan soal kesehatan. Mungkin kaki kanan saya yang sampai saat ini masih agak kaku. Selebihnya tidak ada masalah,” ujarnya.

Menikah dengan Prihanum Martina, Juwono dikaruniai dua anak. (aris m-pdat/berbagai sumber)

Nama:
Juwono Sudarsono
Lahir:
Ciamis, Jawa Barat, 5 Maret 1942
Jabatan:
Menteri Pertahanan Kabinet Indonesia Bersatu
Agama:
Islam
Isteri:
Prihanum Martina
Anak:
- Wisnu Juwono
- Yudhistira Juwono
Ayah:
DR Sudarsono
Ibu:
Muspiah

Pendidikan:
- Sarjana Publisistik Universitas Indonesia (1965)
- Institute of Social Studies, Den Haag (1969)
- MA dari University of California (1971)
- PhD dari London School of Economics and Political Science Inggris, disertasi berjudul “Politik Luar Negeri Indonesia 1965-1975: Studi Kasus Hubungan Indonesia-Amerika Serikat” (1978)
- PhD di Universitas Georgetown Inggris (1985)

Karier:
- Guru besar tamu Columbia University, New York, AS (1986-1987)
- Guru besar Universitas Indonesia (1988-sekarang)
- Dekan FISIP UI (1988-1994)
- Wakil gubernur Lemhanas
- Menteri Negara Lingkungan Hidup Kabinet Pembangunan VII Presiden Soeharto (1997-1998)
- Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Kabinet Reformasi (Mei 1998-Oktober 1999)
= Menteri Pertahanan Kabinet Persatuan Nasional (Oktober 1999-Agustus 2000)
- Duta Besar RI untuk Inggris (12 Juni 2003-Oktober 2004)
- Menteri Pertahanan Kabinet Indonesia Bersatu (21 Oktober 2004-20 Oktober 2009)

Penghargaan:
- Bintang Mahaputra Adipradana
- Bintang Jasa Utama
- Satya Lencana Dija Sistha

Alamat Kantor:
Jalan Medan Merdeka Barat No.13-14 Jakarta Pusat, Telp. (021) 3458947

Alamat Rumah :
Jalan Alam Asri VII No. 20, Pondok Indah, Jakarta Selatan 12310 Telepon (021) 75909878 Faksimile (021) 75910235

Diam-diam, Menteri Juwono Ngefans Sama Tukul Arwana
Rabu, 28 Februari 2007, 13:18:00

Sumber: http://www.myrmnews.com/situsberita/cetak.php?id=29278

Diam-diam, Menteri Juwono Ngefans Sama Tukul Arwana
Rabu, 28 Februari 2007, 13:18:00

Jakarta, Rakyat Merdeka. Siapa yang tak kenal Tukul Arwana. Pelawak yang sering mengaku sebagai bekas cover boy bernama “Renaldy” ini sangat khas dengan gaya banyolannya, meskipun terkesan katro’ dan culun.

Sejak membawakan acara talk show “Empat Mata” di layar Trans 7, popularitas Tukul naik drastis. Fans-nya sudah menjalar kemana-mana. Tua-muda, dari kota sampai ke kampung-kampung.

Bahkan, seorang menteri anggota Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) pun diam-diam juga menjadi fans-nya Tukul. Dia adalah Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono. Kok, bisa?

Saat berbincang-bincang dengan Situs Berita Rakyat Merdeka, Rabu siang ini (28/2), Juwono mengaku sangat senang dengan acara “Empat Mata” yang dibawakan Tukul itu.

“Sangat menarik. Saya sangat senang nonton kalau Tukul lagi bawain acara ‘Empat Mata’. Hampir setiap malam saya sempatkan nonton,” kesan Juwono usai mengikuti rapat terbatas di Kantor Kepresidenan.

Selain menghibur dengan gaya yang kocak, Tukul ternyata telah membuat menhan bisa tertawa sendiri. Guru Besar FISIP Universitas Indonesia itu mengaku, dengan menonton acara yang tayan setiap Senin-Jumat pukul 22.00 WIB itu, dirinya jadi terlepas dari kepenatan.

“Guyonan Tukul bisa hilangkan stres saya, setelah seharian bekerja untuk negara. Dia lucu. Saya ketawa-ketawa sendiri. Saya selalu sempatkan nonton dia kalau sedang tidak ke luar negeri,” tutur Juwono sambil tersenyum, mungkin teringat dengan polah Tukul tadi malam.

Dimata menhan, Tukul cukup pintar memainkan suasana menjadi menarik. Gayanya spontan. Tapi tidak berarti tidak ada kritik buat acara “Empat Mata” itu.

“Kritik saya, gaya leluconya sering diulang-ulang. Itu-itu saja. Polanya sama. Karena muncul tiap hari, orang nanti gampang bosan,” begitu petuah Juwono.

Yang jelas, tandas profesor bidang pertahanan ini, dengan gaya “sok ganteng” itu, Tukul ternyata bisa membuat seorang menteri menjadi terlepas dari stres. iga

http://www.rakyatmerdeka.co.id/situsberita

Konvoi Bus Dephan

Pada 26 Januari 2006 sekitar pukul 06.00 WIB, saya berangkat menuju kantor. Rumah saya di Lenteng Agung dan biasa berangkat pada pukul 06.00 WIB kurang. Saya tinggal di Lenteng Agung baru sekitar delapan bulan, sebelumnya di Cinere dan biasa berputar arah ke arah Mampang di depan Universitas Pancasila.

Ketika saya berada di posisi kanan dengan kecepatan 40 kilometer per jam (bersiap akan berputar di dekat pintu lintasan kereta), dari arah belakang ada konvoi bus berwarna gelap (kemungkinan hitam) bergerak dengan cepat ke arah saya pada jalur kiri. Karena jalan cukup lebar dan jalan tersebut satu arah, saya tetap pada jalur dan berusaha makin minggir ke arah kanan (karena takut tertabrak).

Tiba-tiba dari kejauhan saya melihat rombongan tukang bubur bergerak berlawanan arah di jalur kiri. Bus pertama dengan tulisan Dephan lewat di samping kiri tanpa menabrak mobil saya. Tidak demikian halnya dengan bus kedua (juga dengan tulisan Dephan), walau jarak antara bus dan gerobak masih sekitar 200 meter hingga 300 meter, bus kedua tampaknya enggan untuk memperlambat kecepatan tapi malah mendesak ke kanan (ke arah mobil saya). Saya pun semakin merapat ke kanan sambil membunyikan klakson, tetapi tampaknya tidak dihiraukan dan bus semakin merapat ke arah mobil saya. Akhirnya kaca spion saya tertabrak, bodi di atas ban hingga ke bemper penyok dan pelek ban depan kanan cacat karena menabrak trotoar kanan jalan kemudian mesin mobil mati.

Bus ketiga melewati saya dengan santai seolah tidak terjadi apa-apa. Karena mesin mati saya tidak bisa berbuat apa-apa. Rasa takut karena bisa berakibat fatal pada diri saya, sedih, sebal, dan marah bercampur aduk di dalam hati. Apakah ada cara untuk menegur sopir bus tersebut sehingga tidak mengulangi perbuatannya lagi, dan yang jelas membahayakan keselamatan orang lain? Apakah karena bus milik Dephan jadi bisa berkendaraan seenaknya sendiri? Apakah Dephan itu kebal hukum? Apakah tidak ada lagi rasa bersalah di Dephan?

Segudang pertanyaan terhadap Dephan terlintas dalam benak saya dan membuat saya berpikir negatif terhadap Dephan. Mohon penjelasan dari Dephan. Z. Putu Widiyanta Jalan Lenteng Agung Raya 19, Jakarta

Menteri Pertahanan tentang Bus

Sehubungan dengan surat di Kompas, Jumat (17/2), ”Konvoi Bus Dephan” yang disampaikan Bapak Putu Widiyanta, saya prihatin atas kejadian yang menimpa Bapak Putu Widiyanta pada tanggal 26 Januari 2006 di Jalan Lenteng Agung, Jakarta Selatan. Menurut yang bersangkutan, kejadian itu melibatkan salah satu bus Departemen Pertahanan sehingga mobil Bapak Putu Widiyanta mengalami kerusakan.

Tanggal 20 Februari 2006, saya telah memerintahkan Kepala Biro Umum Dephan/Provost untuk meneliti kejadian itu dan memberi teguran kepada sopir bus Dephan yang bersangkutan apabila terbukti melakukan tindakan yang mengganggu kenyamanan pengguna jalan lain. Pimpinan Dephan bertekad bahwa seluruh jajaran Dephan harus tunduk kepada ketentuan hukum dan perundang-undangan yang berlaku di jalan raya.

Kepada Kepala Biro Umum, saya juga minta untuk segera menghubungi Bapak Putu Widiyanta di kediamannya dan mengganti semua biaya perbaikan atas kerusakan mobil milik yang bersangkutan.

Juwono Sudarsono
Menteri Pertahanan RI, Jalan Medan Merdeka Barat 13-14, Jakarta

Universitas Indonesia

 

November 2009
S M T W T F S
« Oct    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Banyak Pengunjung:

  • 10,241

Top Clicks

  • None